Pemkot Banjarbaru Pelajari Pengelolaan Sampah Modern di Rorotan, Siap Terapkan Sistem Terintegrasi

by baritopost.co.id
0 comments 3 minutes read

Banjarbaru, BARITOPOST.CO.ID Pemerintah Kota Banjarbaru menunjukkan keseriusan dalam membenahi persoalan sampah dengan melakukan studi tiru ke Kelurahan Rorotan, Jakarta Utara, Sabtu (4/4/2026).

Pada hari kedua kunjungan, rombongan menelusuri langsung berbagai model pengelolaan sampah modern yang telah diterapkan secara terintegrasi, mulai dari pemilahan di tingkat rumah tangga hingga pengolahan akhir bernilai ekonomi.

Kunjungan diawali ke Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Utara. Rombongan mendapat pemaparan terkait roadmap pengelolaan sampah yang dirancang sistematis dari sumber, proses pengolahan di fasilitas antara, hingga tahap akhir.

Paparan tersebut menegaskan bahwa keberhasilan pengelolaan sampah tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga perubahan perilaku masyarakat dalam memilah sampah sejak dari rumah.

Rombongan kemudian mengunjungi Pusat Edukasi KIE RBU (Recycle Business Unit), yang menjadi pusat edukasi lingkungan sekaligus fasilitas pengolahan sampah kering dan daur ulang. Di lokasi ini, para camat dan lurah se-Kota Banjarbaru bersama jajaran Dinas Lingkungan Hidup diperlihatkan bagaimana pengelolaan sampah dapat menjadi gerakan edukasi sekaligus menciptakan nilai tambah dari limbah.

Perjalanan dilanjutkan ke kawasan ProKlim RW 01 Tugu Utara, yang menjadi contoh kampung iklim berbasis komunitas. Rombongan mempelajari berbagai inovasi, seperti pembuatan pelet dari sampah, budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF) untuk mengurai sampah organik, serta sistem drop point bambu untuk fermentasi sampah.

Pembelajaran semakin lengkap saat rombongan mengunjungi fasilitas pengolahan sampah modern RDF Plant Rorotan. Fasilitas milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta ini mampu mengolah sekitar 2.500 ton sampah per hari menjadi bahan bakar alternatif Refuse Derived Fuel (RDF).

Teknologi yang digunakan meliputi proses mechanical treatment seperti pemilahan, pencacahan, hingga pengeringan sampah non-organik menjadi bahan bakar berukuran 2 hingga 10 sentimeter dengan kadar air di bawah 25 persen dan nilai kalor setara batu bara muda.

Wali Kota Banjarbaru Erna Lisa Halaby bersama rombongan tampak serius menyimak setiap tahapan proses tersebut. Ia menyebut kunjungan ini memberikan pengalaman dan wawasan baru yang akan segera diadaptasi di Banjarbaru.

“Tentunya ini menjadi pengalaman, wawasan, dan ilmu yang telah kita dapatkan di sini. Harapannya hasil dari kunjungan ini bisa segera kita implementasikan di Banjarbaru, dengan menyesuaikan karakteristik wilayah masing-masing,” ujarnya.

Ia menegaskan, pengelolaan sampah harus dimulai dari sumber melalui kebiasaan masyarakat dalam memilah sampah sejak rumah tangga.

“Ini harus kita dorong bersama. Tidak bisa dikerjakan secara individu, tetapi membutuhkan dukungan lurah dan camat untuk memberdayakan masyarakat. Kita harus mengubah perilaku agar pemilahan sampah dapat selesai dari sumbernya,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Banjarbaru, Shanty Eka Septiani mengatakan pihaknya akan menyusun strategi konkret setelah kembali dari studi tiru.

“Setiap kelurahan akan memetakan jumlah penduduk hingga tingkat RW, termasuk estimasi sampah organik dan anorganik. Kami akan memulai dari beberapa rumah terlebih dahulu, dengan target setiap bulan minimal bertambah 10 rumah yang menerapkan pemilahan,” jelasnya.

Menurutnya, pola pengelolaan sampah di Banjarbaru saat ini masih didominasi sistem kumpul-angkut-buang, sehingga perubahan pola pikir masyarakat menjadi tantangan utama.

Rangkaian kunjungan ditutup dengan peninjauan RPTRA Rorotan Indah I dan TPS 3R Rorotan. Rombongan melihat langsung fasilitas seperti rumah pilah, bioreaktor kompos, serta sistem pengolahan sampah berbasis partisipasi warga.

Fasilitas tersebut terbukti mampu mereduksi volume sampah secara signifikan sejak dari sumbernya dan menjadi contoh kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat dalam menciptakan sistem pengelolaan sampah berkelanjutan.

Melalui studi tiru ini, Pemkot Banjarbaru tidak

hanya membawa catatan teknis, tetapi juga semangat baru untuk membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih modern. Pemerintah berharap pengelolaan sampah ke depan tidak lagi berakhir di tempat pembuangan, melainkan dimulai dari kesadaran masyarakat dalam memilah dan mengolah sampah sejak dari rumah.

Penulis: Laila
Editor: Laila

Follow Google News Barito Post

Baca Artikel Lainnya

Tinggalkan komentar