oleh

Jumlah Orang Miskin Indonesia Melebihi Populasi Penduduk Australia

Banjarmasin, BARITO – Menurut Badan Pusat Statistik, jumlah orang miskin Indonesia, mencapai 25,14 juta jiwa, yang ternyata melebihi populasi penduduk Australia (24,59 juta jiwa)

Angka ini diperlihatkan Ketua Umum Asosiasi Konsultan Ekonomi dan Bisnis Syariah), Fauzan al-Banjari, saat diskusi refleksi akhir tahun 2019, di Waroeng Bamboe, Sabtu (28/12/19).

Hal ini menjadi sorotannya, karena menurutnya, pengentasan kemiskinan menjadi salah satu ukuran sukses pembangunan Ekonomi, terutama dalam syariah Islam.

“Suksesnya sebuah negara dalam ekonomi, adalah ketika kemiskinan 0%, dan ini pernah terjadi ketika zaman Khalifah Umar bin Abdul Aziz,” jelas Fauzan, di hadapan para tokoh yang berhadir.

Parameter berikutnya menurutnya, adalah keharusan Pemerintah, untuk 100% memiliki dan mengelola sumber-sumber harta kekayaan bangsa, yang sayangnya, masih banyak dimiliki pihak asing.

“Tambang batubara, dikuasai 66 perusahaan asing. Tambang mineral dikuasai 83 perusahaan asing. Produksi gas bumi, juga didukung oleh 10 kontraktor kontrak kerjasama perusahaan asing,” urai Fauzan.

Sayangnya, bukannya untung, ternyata kontribusi mereka dinilai minim, karena dari penerimaan sektor sumber daya alam (SDA) di Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2019, realisasinya baru 72,94%, yakni Rp139.145,2 miliar, dari target Rp190.754,77 miliar.

“Kacaunya, ketika pemerintah memuluskan keuntungan perusahaan asing, eh malah banyak Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang merugi?,” tanya Fauzan keheranan.

Belum lagi menurut Fauzan, ketergantungan pemerintah terhadap utang (riba), yang kini mencapai Rp 4.814,31 triliun, angka yang membengkak di era Presiden Joko Widodo, dengan bunganya yang melilit, hingga menguras APBN setiap tahun.

“Jadi rasio total utang negara kita terhadap pendapatan pemerintah, bisa mencapai 352%,” ungkap Fauzan.

Ia juga ragu, perkembangan ekonomi tahun depan bisa membaik, lantaran banyaknya prediksi dari berbagai ekonom, yang memperkirakan mandegnya pertumbuhan di angka 4,8%. Ditambah lagi dampak negatif perang dagang Amerika Serikat dengan Tiongkok, yang menjadi 25% tujuan ekspor Indonesia.

“Prediksi saya, kemiskinan Indonesia akan tetap ‘terpelihara’ di 2020, lantaran ukuran kesejahteraan yang masih menggunakan pola pikir ala neo liberal kapitalis, yang menghitung secara rata-rata, bukan per orang,” ujar Fauzan.

Fauzan menegaskan, permasalahan ekonomi multi dimensi ini, hanya bisa diselesaikan, dengan penerapan syariat Islam secara keseluruhan, yang bisa menjamin distribusi harta kekayaan secara merata.

Penulis: ril/Afdi

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed