Banjarmasin, BARITOPOST.CO.ID – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang terus melemah berulang kali mencetak perubahan nilai hingga Rp17.500 lebih, jadi sorotan Sekretaris Komisi II DPRD Provinsi Kalimantan Selatan H Jahrian.
Politisi Nasdem berlatarbelakang pengusaha sukses ini menyoroti pelemahan mata uang rupiah itu juga ada dampaknya di Kalsel, yakni harga-harga barang naik.
Ia mencontohkan seperti peralatan pertanian harganya turut naik imbas menurunnya nilai rupiah.
Diakuinya saat menurunnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS disisi lain ada kenaikan harga batubara, karena Kalsel juga dikenal salah satu daerah penghasil batubara, namun kenaikan harganya tidak stabil.
Baca Juga:
“Meski rupiah melemah, harga batubara ada kenaikan, tapi tidak stabil cuma 3 persen,” ujar Jahrian di Banjarmasin, kemarin.
Untuk komoditas lainnya, seperti kelapa sawit, lanjutnya, justru harganya mengalami penurunan, yang seharusnya harga kelapa sawit itu Rp2.950 per kilogram sekarang ini hanya Rp2.400 per kilogram
“Saat rupiah melemah malah harga kelapa sawit tidak ada keseimbangan,” tukasnya.
Menurut Jahrian melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, salah satunya karena kita banyak membutuhkan barang impor dari luar negeri.
“Barang impor itu nilainya kan dolar, kita beli dengan rupiah maka rupiah kita melemah,” ujarnya.
Baca Juga:
Akibat melemahnya nilai tukar rupiah, sehingga dolar AS itu mendominasi terus dengan rupiah, akibat banyaknya barang impor masuk ke Indonesia, sedangkan produksi kita di dalam negeri kadang-kadang tidak terpakai.
“Yang jadi pertanyaan, apa yang bisa dibeli oleh pihak luar negeri dari Indonesia,” kata Jahrian.
Disebutkannya barang dari Indonesia yang dibutuhkan dan dibeli pihak dari luar negeri ada empat macam, yakni batubara, nikel, pasir sirka dan emas.
“Dari luar negeri tidak ada yang beli sembilan bahan pokok dari Indonesia,” sentilnya.
Baca Juga:
Jahrian menyarankan kepada pemerintah tidak hanya bergantung barang impor, tapi bagaimana menggencarkan ekspor dari Indonesia ke luar negeri, salah satunya produk pertanian berupa beras.
“Kalau bisa kita ekspor beras ke luar negeri,” sarannya.
Penulis/Editor : Sophan Sopiandi
Follow Google News Barito Post