Dugaan Kekerasan terhadap Santri di Ponpes Jalan Cemara Ujung Banjarmasin, Orangtua Mulai Resah

by baritopost.co.id
0 comments 2 minutes read
ILUSTRASI - Diawali ribut, remaja ini diduga alami tindak kekerasan. (Foto: Ilustrasi AI)

Banjarmasin, BARITOPOST.CO.ID Kabar dugaan tindak kekerasan terhadap sejumlah santri di sebuah pondok pesantren di Jalan Cemara Ujung, Kelurahan Sungai Miai, Kecamatan Banjarmasin Utara, menjadi perhatian orangtua santri.

Informasi mengenai dugaan kekerasan tersebut beredar di media sosial dalam beberapa hari terakhir. Sejumlah santri disebut mengalami perundungan hingga pemukulan yang diduga dilakukan kakak tingkat di lingkungan asrama.

Jumlah korban bahkan disebut-sebut mencapai belasan orang. Namun, pihak pondok pesantren hingga kini masih melakukan pendataan untuk memastikan kejadian maupun jumlah santri yang terdampak.

Kabar tersebut juga memicu keresahan sejumlah orangtua santri.

“Saya jadi resah mendengar berita seperti ini, karena putra saya juga tengah mondok,” ujar Agus, warga Banjarmasin, yang mengaku mengetahui informasi tersebut melalui media sosial, Jumat (14/8/2026).

Sementara itu, salah seorang orangtua santri berinisial E mengaku anaknya yang duduk di kelas II Madrasah Aliyah diduga mengalami kekerasan pada Sabtu (8/8/2026).

Menurut E, saat itu anaknya bersama sejumlah santri lainnya dikumpulkan oleh kakak tingkat di halaman asrama. Dalam situasi tersebut, anaknya mengaku mendapat pukulan di bagian perut.

Usai kejadian, anak E sempat dibawa ke RSUD Ansari Saleh Banjarmasin untuk mendapatkan penanganan medis. Setelah diperbolehkan pulang, E memilih tidak langsung mengirim kembali anaknya ke pondok lantaran masih mengalami trauma.

Pengakuan lain juga datang dari seorang santri kelas XI. Ia mengaku mendapat hukuman dari kakak tingkat karena dianggap melakukan pelanggaran.

Merasa hukuman yang diberikan terlalu berat, santri tersebut kemudian menceritakan kejadian itu kepada orangtuanya.

Informasi lain juga menyebut adanya santri yang diduga mengalami pemukulan secara bersama-sama oleh sejumlah santri kelas XII.

Namun, seluruh informasi tersebut masih perlu dipastikan lebih lanjut.

Koordinator asrama ponpes, Suyatno, membenarkan adanya persoalan yang berkaitan dengan dugaan tindak kekerasan di lingkungan asrama.

“Persoalan ini tengah kami selesaikan,” ujarnya.

Kepala asrama, Chusnul, juga mengatakan pihaknya masih mendalami kejadian tersebut. Pihak ponpes, menurutnya, kini intens melakukan komunikasi dengan para orangtua santri.

Terkait informasi mengenai jumlah korban yang disebut mencapai belasan orang, Chusnul mengatakan pihaknya belum dapat memastikan.

Pendataan masih dilakukan oleh para ustadz dan mudabbir untuk mengetahui secara jelas bentuk maupun rangkaian kejadian yang dilaporkan.

“Berdasarkan pendataan sementara, bentuk kejadian yang dilaporkan tidak seragam. Sebagian berupa verbal, tetapi memang terjadi pula sentuhan fisik,” jelasnya.

Pihak ponpes hingga kini masih melakukan penelusuran internal terhadap informasi tersebut, termasuk mencari tahu kronologi dan pihak-pihak yang terlibat.

Belum diketahui apakah dugaan tindak kekerasan tersebut telah dilaporkan secara resmi kepada kepolisian.

Pihak ponpes juga belum merinci bentuk sanksi atau langkah lanjutan yang akan diberikan apabila hasil pendalaman nantinya menemukan adanya pelanggaran yang dilakukan oleh santri senior.

Penulis: Arsuma
Editor: Mercurius

Follow Google News Barito Post

Baca Artikel Lainnya

Tinggalkan komentar