oleh

Banjir Bikin Repot, Prokes tetap Perlu

Banjarmasin, BARITO – Banjir yang melanda 11 kabupaten dan kota di Kalimantan Selatan tak hanya merusak permukiman penduduk, fasilitas umum, tempat ibadah dan menimbulkan korban jiwa. Tetapi, juga memunculkan kekhawatiran meningkatnya penularan Covid-19 yang hingga sekarang masih menjadi ancaman.

Berdasarkan catatan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) banjir terbesar yang pernah terjadi di Kalsel ini membuat 24.379 rumah terendam , 39.549 warga mengungsi, dan 15 orang meninggal dunia.

Kesibukan luar biasa para korban banjir menyelamatkan diri, keluarga dan harta benda membuat sebagian besar mereka melupakan protokol kesehatan (prokes).

Dari pengamatan di beberapa lokasi banjir, nyaris tak terlihat  warga terdampak melaksanakan prokes. Sebagian  besar  warga yang sibuk tampak tidak memakai masker dan menjaga jarak saat berbicara satu sama lain.

Bahkan, sebagian relawan yang membantu mengevakuasi warga  dan menyalurkan bantuan juga terlihat tidak memakai masker dan menjaga  jarak.

‘’Dalam kondisi super  sibuk seperti ini mana sempat kita memikirkan prokes,’’ kata Nisa, warga Kelurahan Sungai Lulut Banjarmasin, yang ikut berdesakan bersama warga korban banjir lainnya di bak belakang  mobil  tim relawan.

Wanita yang  juga mahasiswi salah satu perguruan tinggi di Banjarmasin itu terlihat masih memakai masker. Sementara, beberapa orang di sekitarnya tidak memakai penutup hidung dan mulut itu.

Saat ini hingga 25 Januari 2021, Kota Banjarmasin dan beberapa daerah di Kalsel masih melaksanakan Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) untuk menahan laju penyebaran virus Corona.

Namun, dengan datangnya banjir membuat penerapan prokes dan PPKM cenderung longgar.

Wali Kota Banjarmasin Ibnu Sina mengakui hal itu. Meski demikian, ia tetap memantau PPKM dan  mengimbau warga agar tetap melaksanakan prokes.

“Saat ini Pemerintah Kota Banjarmasin sedang bekerja keras mengatasi persoalan banjir. Untuk PPKM memang sedikit longgar karena mau tidak mau. Mudah-mudahan Covid-nya larut bersama banjir,” harap Ibnu Sina kepada wartawan, kemarin.

Menurut Pakar Mitigasi Bencana Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Yogyakarta, Eko Teguh Paripurno, perlu ada langkah khusus untuk menekan Covid-19 di tengah bencana agar tidak memunculkan klaster banjir.

Dia mengakui, penanganan bencana banjir saat pandemi lebih sulit dilakukan ketimbang saat kondisi normal. Karena itu, masyarakat tetap diminta  turut andil dalam penekanan Covid-19 agar tak muncul klaster baru pengungsian.

“Jelas lebih sulit. Tinggal masyarakat merasa penting atau tidak melakukan protokol dengan baik. Perlu diketahui, mengurus bencana, terutama melaksanakan protokol kesehatan bukan hanya urusan pemerintah tapi urusan semua orang. Pada akhirnya masyarakat yang jadi korban bila mereka tidak melakukan protokol kesehatan dengan baik,” ucap dia, yang dikutip health liputan6.com, belum lama ini.

Ahli Mikrobiologi dari LIPI, Sugiyono Saputra mengungkapkan, sulit memprediksi virus SARS-CoV-2 dapat terbawa air banjir dan menginfekasi warga lainnya. Namun begitu, menurutnya, keberadaan virus dipengaruhi oleh faktor lingkungan, seperti kelembaban suhu udara.

“Pertama (penyebaran virus melalui) droplet. Airborne mungkin, tapi kecil. Yang utama droplet. Sebisa mungkin hindari benda-benda yang banyak disentuh orang, kan terkontaminasi. Kalau air, apakah virus ini bisa bertahan atau tidak, saya tidak tahu,” ujar dia.

Menurut Sugiyono, jenis virus Corona  ini terbukti tahan terhadap segala cuaca. Sikap kewaspadaan dan kedisiplinan menjalankan protokol kesehatan menjadi kunci utama untuk memutus penyebaran virus tersebut.

Praktisi kesehatan Ari Fahrial Syam mengingatkan kemunculan klaster pengungsi akibat banjir di tengah pandemi Covid-19 menjadi sesuatu yang perlu diwaspadai. Ini karena risiko potensi penularan Covid-19 dapat terjadi.

“Prinsipnya begini, dengan kasus Covid-19 semakin banyak, pada kasus pasien yang sakit dilakukan isolasi mandiri dan terpisah. Jadi, ketika ada kerumunan, misalnya, di pengungsian banjir itu, ya terus terang saja ada potensi terjadinya klaster,” kata Ari, yang dikutip dari health liputan6.com.

“Bagaimana mengantisipasinya? Jelas harus ada pengaturan yang sedemikian rupa, sehingga mereka yang mengungsi akibat banjir juga melaksanakan protokol kesehatan,” imbuh dia.

Menurutnya, protokol kesehatan harus dipersiapkan di pengungsian banjir. Terlebih saat makan bersama.

“Tetap antisipasi jaga jarak, pakai masker. Kalau makan juga diatur bagaimana tempatnya nanti. Karena pas makan kan buka masker,” lanjut Ari.

Ia juga menegaskan, proses 3T (testing, tracing, treatment) dalam penanganan Covid-19 harus tetap dilakukan tatkala menghadapi banjir. Hal ini pun perlu diperhatikan pemerintah daerah.

“Oh, iya jelas 3T tetap harus dilakukan. Jangan sampai mereka sudah menjadi korban banjir, lalu di pengungsian banjir malah terjadi penularan Covid-19 di antara mereka,” tambah Ari yang berlatar belakang dokter spesialis penyakit dalam konsultan tersebut.

“Memang di satu sisi ketika banjir, daya tahan tubuh juga menurun. Pengungsi bisa saja stres, tidurnya terganggu. Terlebih lagi cuaca yang mungkin belum bersahabat, ini jelas memengaruhi daya tahan tubuh,” katanya.dtv/lp6

Editor: Dadang Yulistya

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed