oleh

PPJP ULM Gelar Workshop dan Simposium Internasional

Banjarmasin, BARITO – Pusat Pengelolaan Jurnal dan Penerbitan (PPJP) Universitas Lambung Mangkurat (ULM) mengadakan Workshop Pengelolaan Konferensi, Jumat -Sabtu
(19-28/11/2020). Bertempat di Hotel Best Western Banjarmasin itu juga akan menggelar The Sixth International Symposium on Wetlands Environmental Management, Senin (30/11/2020) dan Selasa (1/12/2020) nanti.

Prof Abdul Hadi, M. Agr selaku Kepala Pusat Pengelolaan Jurnal dan Penerbitan Universitas Lambung Mangkurat (ULM) ditemui usai acara mengatakan, workshop pengelolaan konferensi dan artikel naskah merupakan rangkaian seminar internasional.

“Jadi simposium internasional pengelolaan lahan basah ini dalam rangka mempersiapkan simposium internasional, “sebutnya kepada Barito Post.

Untuk narasumbernya kebanyakan lokal Indonesia, namun ada satu dari luar negeri yakni Mr Spencer dari Amerika Serikat nanti menggunakan zoom meeting atau online.

“Jadi tujuannya untuk melatih kawan-kawan para dosen para peneliti supaya menjadi presenter yang baik dan berkualitas, “terang Prof Abdul Hadi.
Beberapa materi yang tadi disampaikan yakni, bagaimana cara menulis naskahnya dan mempresentasikannya.

Termasuk latihan dari pelaksanaan yang sesungguhnya pada Senin (30/11) dan Selasa (1/12) dipresentasikan. Karena workshop disambung simposium itu juga ada mengundang kampus nasional lainnya.

Prof Abdul Hadi

Karena ditengah pandemi Covid-19 ini maka memang tidak banyak yang hadir cuma 100 peserta. Mereka sebagian akan offline melalui zoom meeting nanti.

“Jadi kegiatan kita ini lebih mengedepankan pada dosen pasca. Mulai bagaimana mereka melakukann publikasi di Jurnal atau dalam bentuk buku, “beber Prof Abdul Hadi.

Profesor ahli lahan basah ini juga terkait akan membahas lahan gambut khas Kalimantan. Dia menilai kalau isu kebakaran atau bencana sudah berkurang beberapa tahun terakhir pertama ini. Karena jumlah hotspot sudah menurun.

Hadi menyatakan, sekarang ini karena pandemi covid 19, salah satu dampaknya adalah menurunnya produktivitas pertanian. Karena petani tidak bisa ke sawah lantaran Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) lalu dan hasil pertanian menurun penjualannya.

Nah terkait dengan rencana pengembangan Food Estate di Kalimantan Tengah (Kalteng) itu hampir Rp800.000 sawah yang akan dibangun. Prof Hadi meragukan hal itu, sebab mencermati pernah lahan PLG yang gagal.

Di Kalimantan Selatan ada program Kementerian Pertanian Selamatkan Rawa Sejahterakan Petani (SINERGI), lahamnya mayoritas di Kabupaten Batola, hampir 27.000 hektar. Ditambah lahan 1 Juta hektar di Jejangkit muara Batola yang berhasil panen, namun kini kekurangan tenaga petani hingga menurun panennya.

Penulis : Arsuma

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed