Pontianak, BARITOPOST.CO.ID – Polemik final Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar MPR RI tingkat Kalimantan Barat masih menjadi perhatian publik setelah video penilaian juri terhadap peserta viral di media sosial.
Kontroversi itu bermula dalam final yang digelar pada 9 Mei 2026. Saat itu, regu dari SMAN 1 Pontianak memprotes keputusan juri setelah jawaban mereka soal mekanisme pemilihan anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dinilai salah dan mendapat pengurangan poin.
Dalam tayangan yang kemudian ramai dibahas, peserta menyampaikan keberatan dengan mengatakan, “Dewan juri, izin, tadi kami menjawabnya sama seperti regu B.” Namun protes itu tidak mengubah keputusan.
Respons panitia di arena justru memicu sorotan lebih luas. MC saat itu menyatakan, “Mungkin itu hanya perasaan adik-adik saja, nanti bisa dilihat tayangan ulangnya.” Sementara salah satu juri juga menekankan soal kejelasan pengucapan atau artikulasi jawaban peserta.
Baca Juga:
Setelah polemik meluas, MPR RI melalui Sekretaris Jenderal MPR RI Siti Fauziah menyampaikan permintaan maaf. Dalam pernyataan resminya,
“MPR RI melalui Sekretariat Jenderal MPR RI menyampaikan permohonan maaf atas kelalaian Dewan Juri.” ucapnya.
MPR juga mengumumkan langkah awal berupa penonaktifan petugas yang bertugas dalam lomba tersebut.
Baca Juga:
“panitia pelaksana dari Sekretariat Jenderal MPR RI telah menonaktifkan Dewan Juri dan MC.” tambah Siti Fauziah.
Rabu, 13 Mei 2026 Ketua MPR RI Ahmad Muzani, mengatakan dua juri sudah dipanggil dan ditegur. “Sudah. Tadi kita panggil. Sudah kita tegur.”
Pada saat yang sama, MPR juga mengarah pada langkah perbaikan lanjutan, termasuk final ulang dengan juri independen.
Kasus ini menjadi sorotan bukan hanya karena soal menang atau kalah, melainkan karena menyangkut objektivitas penilaian, keadilan bagi peserta, dan kredibilitas lomba pendidikan kebangsaan. Publik kini menunggu tindak lanjut evaluasi agar polemik serupa tidak kembali terjadi.
Follow Google News Barito Post