Karlie Hanafi Tegaskan Pancasila Wujudkan Kerukunan Hidup Beragama

by baritopost.co.id
0 comment 5 minutes read
Anggota Komisi II DPRD Provinsi Kalsel Dr H Karlie  Hanafi Kalianda, SH, MH saat memaparkan tentang Nilai-nilai Ideologi Pancasila di Kantor Dinas Perkebunan dan Peternakan Kabupaten Batoladi Marabahan, Jumat (7/6/2024).(foto : ist)

Marabahan, BARITOPOST.CO.ID – Sila pertama Pancasila yang berbunyi “Ketuhanan Yang Maha Esa” memiliki makna bahwa Bangsa Indonesia mempunyai kebebasan untuk menganut agama dan menjalankan ibadah yang sesuai dengan ajaran agamanya sehingga mewujudkan kerukunan hidup beragama yang penuh dengan toleransi.

Hal itu disampaikan anggota Komisi II DPRD Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel), Dr H Karlie Hanafi Kalianda, SH, MH, Jumat (7/6/2024).

Karlie Hanafi menyampaikan sila pertama dari Pancasila itu saat menggelar Sosialisasi Revitalisasi dan Aktualisasi Nilai-nilai Ideologi Pancasila di Kantor Dinas Perkebunan dan Peternakan Kabupaten Barito Kuala (Batola) di Marabahan.

“Dengan berpedoman pada Pancasila bisa mewujudkan kehidupan yang selaras, serasi dan seimbang antar sesama manusia Indonesia, antar bangsa maupun dengan makhluk ciptaan Tuhan yang lainnya,” jelasnya dihadapan Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Kabupaten Batola, H Sumartono, SP, MS beserta jajarannya.

Baca Juga: PUPR Banjarmasin Targetkan 500 Titik Infrastruktur Sanitasi Layak dan Sehat

Ketua Fraksi Partai Golkar DPRD Provinsi Kalsel ini mengatakan Negara Indonesia didirikan atas landasan moral luhur, yaitu berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa, sehingga konsekuensinya negara menjamin kepada warga negara dan penduduknya untuk memeluk dan untuk beribadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya, seperti pengertiannya terkandung dalam Pasal 29 UUD 1945 yang berbunyi negara berdasarkan atas Ketuhanan Yang Maha Esa, kemudian negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadah menurut agamanya dan kepercayaannya.

Staf Ahli DPRD Provinsi Kalsel, H Puar Junaidi, S.Sos, SH, MH selaku narasumber dalam paparannya, antara lain mengatakan di Negara Indonesia tidak boleh ada pertentangan dalam hal Ketuhanan Yang Maha Esa dan sikap atau perbuatan yang anti terhadap Ketuhanan Yang Maha Esa atau anti agama.

Lanjutnya sebaliknya dengan paham Ketuhanan Yang Maha Esa ini hendaknya diwujudkan kerukunan hidup beragama, kehidupan yang penuh toleransi dalam batas-batas yang diizinkan atau menurut tuntutan agama masing-masing, agar terwujud ketentraman dan kesejukan di dalam kehidupan beragama.

“Hal itu seperti kita alami sekarang ini tidak ada pemaksaan beragama atau orang memeluk agama dalam suasana yang bebas, yang mandiri. Oleh karena itu dalam masyarakat ber Pancasila dengan sendirinya agama dijamin berkembang dan tumbuh subur dan konsekuensinya diwajibkan adanya toleransi beragama,” jelas Puar.

Anggota Komisi II DPRD Provinsi Kalsel Dr H Karlie  Hanafi Kalianda, SH, MH menyerahkan cendera mata berupa ukiran Burung Garuda yang merupakan lambang Negara Indonesia diterima oleh Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Kabupaten Batola H Sumartono Susanto, SP, MS di Marabahan, Jumat (7/6/2024).(foto : ist)

Anggota Komisi II DPRD Provinsi Kalsel Dr H Karlie  Hanafi Kalianda, SH, MH menyerahkan cendera mata berupa ukiran Burung Garuda yang merupakan lambang Negara Indonesia diterima oleh Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Kabupaten Batola H Sumartono Susanto, SP, MS di Marabahan, Jumat (7/6/2024).(foto : ist)

Puar Junaidi juga menyinggung tentang definisi dari toleransi, apa sih toleransi itu atau apa sih kehidupan bertoleransi dalam beragama itu?

“Sikap menerima dengan kepenuhan hati akan keberadaan setiap warga bangsa Indonesia dengan seluruh perbedaan latar belakang agama, suku bangsa dan budaya yang dimilikinya itu yang disebut dengan toleransi,” terangnya.

Dikatakannya toleransi adalah suatu kebiasaan, bagian dari kehidupan bangsa Indonesia yang menerima keberagaman dengan penuh ketulusan. Sekali lagi hidup bertoleransi itu sangat penting diterapkan di kehidupan kita apalagi di negara kita yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Mengapa demikian? Karena bersikap toleran itu harus menghormati dan saling menghargai satu sama lain. Tetapi tidak cukup sebagai sebuah sikap melainkan suatu kesadaran dari diri sendiri.

“Kita sebagai makhluk sosial pasti akan membutuhkan bantuan dari orang, maka dari itu sikap bertoleransi itu harus diterapkan dalam kehidupan sehari hari,” pesannya.

Baca Juga: Komentar Ibnu Sina Dalam APEKSI di Balikpapan Untuk Gerakkan Roda Perekonomian Daerah

Adapun pengertian toleransi beragama merupakan sikap menyadari bahwa adanya perbedaan adalah suatu realita sosial dalam masyarakat yang dijadikan sebagai pedoman yang dapat menjadikan hidup ini beragam warna akan tetapi tetap dalam kesatuan yang sama.

Dicontohkannya kehidupan bertoleransi agama adalah menghormati hak dan kewajiban antar umat beragama, kemudian menghormati ibadah orang lain dan tidak memaksakan agama kepada orang lain serta saling menyayangi membantu korban kecelakaan dan bencana alam.

“Itulah contoh toleransi di lingkungan rumah serta toleransi beragama di masyarakat,” ujarnya.

Diingatkannya sebagai makhluk sosial, tentu kita harus menerapkan sikap toleransi dalam kehidupan sehari-hari, terutama di Negara Indonesia yang dikenal memiliki penduduk yang beragam suku, ras, budaya dan agamanya.

Kegiatan Sosialisasi Revitalisasi dan Aktualisasi Nilai-nilai Ideologi Pancasila ini diikuti dengan penuh perhatian oleh para peserta yang menyimak dengan sangat serius materi demi materi yang disampaikan.

Sekretaris Dinas Perkebunan dan Peternakan Kabupaten Batola, Supian Suri, S.Sos mengatakan pihaknya sangat beruntung mendapat pencerahan kembali tentang ajaran Pancasila yang beberapa waktu belakangan ini memudar.

“Kami diingatkan kembali tentang ajaran Pancasila sebagai ideologi bangsa yang memuat nilai-nilai luhur budaya bangsa yang tentu saja sangat bermanfaat bagi kami,” ujarnya.

Sedangkan Karlie Hanafi selaku pelaksana kegiatan mengatakan selama dia menggelar sosialisasi di seluruh Kabupaten Barito Kuala, yang merupakan daerah pemilihannya, maka Dinas Perkebunan dan Peternakan Kabupaten Batola adalah kelas yang terbaik, dilihat dari kedisiplinan dan keseriusan para peserta dalam mengikuti dan menyimak materi demi materi yang disampaikan.

 

Penulis/Editor/* : Sophan Sopiandi

Follow Google News Barito Post dan Ikuti Beritanya

Baca Artikel Lainnya

Leave a Comment