oleh

Dosen Uniska Protes, Honornya Dipotong 15 Persen

Banjarmasin, BARITO – Tak terima honornya dipotong 15 persen.
Dosen Universitas Islam Kalimantan (Uniska) MAB tuai protes. Suara protes itu ternyata lama dipendam, dan baru-baru ini pecah.

Saat dikonfirmasi ke beberapa dosen kampus yang berdomisili di Jalan Adyaksa itu, menyatakan benar dan bahkan mereka mengharapkan agar program potongan honor tersebut dihapuskan.

Alasannya, karena potongan 15 persen terlalu besar. Dan keputusan pemotongan juga dinilai tidak melalui musyawarah yang dapat dipertanggungjawabkan.

Dosen FKIP Uniska, Dr Jarkawi salah satu yang paling keras menyuarakan keberatan tersebut. Kata Jarkawi, nilai 15 persen dari honor itu terbilang besar. Terbukti, banyak Dosen Uniska yang protes, juga telah mengusulkan peringanan hingga penghapusan. Namun suara dosen tak didengar rektorat.

Meskipun diketahuinya potongan itu diperuntukan untuk membantu mahasiswa yang terdampak pandemi Covid-19 ini. Namun, baiknya ditanyakan dulu kepada semua dosen yang bersangkutan.

“Saya dan beberapa dosen lainnya keberatan potongan 15 persen dari honor kami yang dijalankan hingga sekarang. Kami harap ini dapat dipertimbangkan lagi oleh Rektorat,” katanya saat ditemui di ruangan kerjanya, Selasa (15/6).

Senada, nada protes juga diucapkan oleh Dr Kaspul Anwar. Dosen S2 Manajemen Pendidikan ini meminta agar pihak kampus menghapuskan program tersebut.

Menurutnya, bila itu terus dilanjutkan bisa saja memakan hak orang dan pihak kampus telah berbuat zalim.

“Kalau saya dihapuskan saja, karena zalim kalau ini masih dilanjutkan,” bebernya.

Sementara itu Wakil Rektor lll, Idzani Mutaqqin, menanggapi, pemotongan honor untuk mahasiswa itu memang dilaksanakan.

Setiap mahasiswa mendapat subsidi SPP sebesar 100 ribu dari keuangan kampus. Subsidi itu merupakan kebijakam kampus dan dosen diminta andil dalam membantu, sehingga diptonglah 15 persen setiap honor dosen.

Ditanya terkait protes para dosen. Bagi Mutaqin, itu soal ikhlas atau tidaknya atau kembalikan ke pribadi masing-masing.

Meskipun demikian, suara protes itu sudah lama didengarnya. Ia berharap itu nanti bisa dibicarakan kembali dan pandemi ini cepat berlalu.

Penulis: Hamdani

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed