Bukan Feodal! Ini Makna Sebenarnya “Makan Batalam Bakipas Pangeran”

by baritopost.co.id
0 comments 3 minutes read
(foto:istimewa)

Tabalong, BARITOPOST.CO.ID Pemerintah Kabupaten Tabalong bersama masyarakat, menyampaikan aparesiasi, syukur, serta ucapan terima kasih kepada Pemerintah Republik Indonesia yang telah menobatkan tradisi asli di daerah ini sebagai warisan budaya nasional.

Tradisi yang mendapatkan pengakuan pemerintah pusat, melalui Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia pada Jumat, 4 September 2026 adalah “Makan Batalam Bakipas Pangeran” dan “Bagunung Perak” sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia.

Sebelumnya pada tahun 2025 tradisi lokal asal bumi Saraba Kawa dikenal dengan sebutan “Manyampir Buaya” telah mendapatkan penetapan sebagai budaya nasional.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Tabalong, Gt. Judid Permana, menyampaikan apresiasi mendalam atas pencapaian bersejarah bagi kelestarian budaya daerah tersebut.

“Pencapaian ini adalah milik kita bersama, Terima kasih kepada pemerintah pusat, Kementerian Kebudayaan yang membuat kami dan masyarakat Tabalong khususnya menjadi berbangga hati, bersyukur atas penetapan ini,” katanya.

Judid mengungkapkan, bahwa masyarakat telah dan tanpa lelah terus menjaga, merawat, dan menghidupkan kearifan lokal. Pengakuan pada tingkat nasional, semakin memberikan semangat dalam menjaga kebudayaan daerah agar tetap lestari di masa depan.

Pemkab Tabalong pada tahun 2027, disebutkan akan mengusulkan WBTb seperti Paliat, Tawas Ja’a dan Mongket Manau untuk diakui sebagai warisan budaya nasional.

Camat Banua Lawas, Arianto mengatakan Makan Batalam adalah tradisi religius makan bersama dalam satu nampan besar yang rutin diadakan oleh masyarakat Kabupaten Tabalong, khususnya di Kecamatan Banua Lawas, untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.

“Nama tradisi ini berasal dari kata talam, yaitu nampan atau piring besar tempat menyajikan makanan.Kegiatan seperti ini sudah ada sejak lebih dari satu abad lalu dan diwariskan secara turun-temurun oleh nenek moyang,” katanya.

Adapun cara pelaksanaan hidangan dalam satu talam biasanya berisi nasi, lauk seperti seekor ayam atau itik, ikan panggang, lengkap dengan sayur dan kuah yang kemudian dinikmati secara bersama-sama oleh empat hingga enam orang.

“Maknanya adalah persatuan, silaturahmi dan rasa syukur. Sehingga dapat dikatakan menjadi simbol pemersatu warga dari berbagai desa di Tabalong, mempererat rasa kekeluargaan, adab, dan gotong royong serta wujud doa bersama agar daerah senantiasa diberikan keberkahan,” tegas Arianto.

Bukan Budaya Feodal

Sedangkan “Bakipas Pangeran” kata Camat Arianto, sebaiknya jangan langsung dimaknai sebagai tradisi feodal. “Istilah dan praktiknya lebih menarik dari itu. Secara sederhana, “bakipas” berarti mengipasi, sedangkan “pangeran” merujuk kepada tokoh bangsawan/kerajaan.

Dalam konteks tradisi Batalam, disebutkannya istilah ini berkaitan dengan penghormatan dan pelayanan kepada tamu yang dianggap penting, khususnya dalam ingatan masyarakat terhadap lingkungan Kerajaan Banjar.

“Jadi konsepnya adalah tamu penting yang datang, disambut, dihormati kemudian dilayani dan diberikan jamuan makan. Sementara kipas pada masa lalu merupakan bagian dari tata krama pelayanan kepada orang yang dihormati,” ujar Arianto.

Tradisi Batalam kemudian tidak hanya menjadi acara makan, tetapi menjadi ruang sosial untuk perjamuan, perkumpulan dan menghormati tamu. Dalam perkembangannya, tradisi ini berbaur dengan kehidupan masyarakat dan nilai-nilai Islam.

Dalam kerangka sejarah, terang Camat Arianto lagi, Batalam dipahami sebagai tradisi kerajaan yang bertemu budaya Banjar dan nilai Islam yang kemudian akhirnya menjadi tradisi masyarakat.

“Ketika tradisi itu berkembang ke dalam kegiatan Maulid Nabi, orientasinya juga berubah, mereka yang dihormati bukan lagi semata-mata status bangsawan, tetapi para ulama, guru agama, tokoh masyarakat, tamu, dan seluruh warga dalam suasana kebersamaan,” tegasnya.

Dijelaskannya, kita perlu berhati-hati mengatakan bahwa tradisi Batalam sekarang sama dengan feodalisme. Sebab orang duduk bersama, makan menggunakan satu talam, berbagi hidangan dan membangun silaturahmi.

Sementara Bakipas Pangeran, menurut Arianto, adalah bagian dari ingatan sejarah tentang bagaimana masyarakat Banjar menghormati dan menjamu seorang tamu yg dimuliakan. Tetapi yang diwariskan hari ini bukan sistem kebangsawanannya, melainkan budaya menghormati tamu, berbagi dan menjalin kebersamaan.

“Sejarahnya kita hormati, tetapi feodalismenya tidak perlu kita warisi. Nilai baiknya kita ambil, kemudian kita hidupkan dalam semangat kebersamaan dalam kesetaraan,” tandas Arianto. (*/lrp)

Follow Google News Barito Post

Baca Artikel Lainnya

Tinggalkan komentar