Wisata Budaya Pasar Terapung Lok Baintan dan Tantangannya

by baritopost.co.id
0 comments 5 minutes read

Oleh :  Hartiningsih, M.I.Kom. dan Arief Anwar, ST,MT. Peneliti BRIDA Prov  Kalsel

 

Kalimantan Selatan memiliki beragam destinasi wisata baik berbasis alam, wisata buatan,  edukassi, religi, sejarah, budaya  dan lain sebagainya.

Konteks wisata budaya jumlahnya mencapai  puluhan buah yang tersebar dibeberapa kabupaten kota, diantaranya wisata Pasar Terapung Lok Baintan, Pasar Terapung Muara Kuin, Makam dan Masjid Sultan Suryiansyah. Masjid Jami Sungai Jingah, Museum Kayuh Baimbai Masjid Apung Ziadatul Abrar di Tanahbumbu, Wasaka.

Museum  Rakyat Hulu Sungai Selatan Kampung Tradisonal Sasirangan dan lain sebagainya.

Baca Juga

Salah satu wisata budaya yang potensial  sebagai pengerak ekonomi masyarakat   adalah  Pasar Terapung Lokbaintan Martapura Kabupaten Banjar Martapura.

Pasar Terapung Lokbaintan merupakan  pasar terapung tradisional yang berlokasi di Desa Lok Baintan, Kecamatan Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar. Pasar ini memiliki sejarah yang panjang dan merupakan bagian penting dari budaya perdagangan di Kalimantan Selatan.

Tumbuh dan berkembangnya   Pasar Terapung  Lok Baintan  tidak terlepas dari kehidupan masyarakat Banjar yang pada zaman dahulu  sebagian besar tinggal di bantaran sungai.

Keberadaan yang    terjadi  secara alami  tersebut menginspirasi para pedagang beraktifitas jual beli dagangan dilakukan  di  sungai menggunakan transportasi  jukung atau kelotok menjadi sebuah tradisi.  Proses jual beli tawar memawar  antar pedagang dengan pembeli terjalin di atas jukung, sementara   posisi pembeli di atas jamban-jamban (dermaga apung yang merupakan  tempat persinggahan.

Baca Juga

Dinamika  jual beli antar pedagang dengan pembeli seperti itu berlangsung berpuluh-puluih tahun yang kemudian didalam perkembangannya, secara alami pula para pedagang menjadikan anak Sungai Martapura sebagai titik kumpul mereka.

Titik kumpul  para pedagang  di anak sungai berlangsung hingga sekarang  dan dengan adanya titik kumpul menjadikan  suasana   lebih ramai, antar sesama pedagang dan antar pedagang dengan pembeli  tercipta keakraban dan interaksi sosial,  pembeli memiliki kesempatan memilah  dan memilih barang yang sesuai kebutuhan, ketersedian barang jualan lebih variative yang bukan saja berasal dari hasil pertaian seperti padi dan beras serta jagung, tetapi juga hasil kebun seperti jeruk kates, ubi-ubian, kaang tanah, kelapa, kakau dan lain sebaginya, ada pula berupa hasil hutan berupa kayu, rotan dan lain lain. Tidak sedikit pula yang menjual   hasil kerajinan tangan,  dan tidak ketinggalan pula    yang menjual  kebutuhan 9 bahan pokok berupa minyak goreng, sabun, telur. tepung, gula pasir  dan lain sebagainya, tersedia juga kuliner Banjar berupa nasi kuning, soto Banjar, Ketupat Kandangan, dan peberapa menu menarik lainnya.

Hal yang lebih potensial lagi, pasar Terapung Lok Baintan bukan saja sebagai ruang transaksi publik berupa jual beli barang dagangan, tetapi juga sebagai destinasi wisata  budaya.

Terdapat banyak hal unik yang menjadi daya tarik wisata budaya antara lain :  pertama,  semua aktivitas   transaksi dilakukan  dari atas perahu. Ke dua, sebagian pedagang masih  melakukan system barter antar sesama pedagang, ke tiga yang merupakan salah satu ciri khas cukup menarik “jenis kelamin pedagang” semua perempuan yang familiar dipanggil Acil. Panggilan Acil tersebut  terlepas apakah pedagang tersebut masih muda atau sudah berumur, semua dipanggil Acil (Tante). Ke empat  “(pedagang) si Aci-Acil menggunakan tanggui (topi besar). Ke lima   tercipta interaksi sosial dan nilai kultural,  keramahan antar pedagang maupun pedagang dengan para pembeli, ke enam dan yang menjadi ciri paling  spesifik Pasar Terapung Lok Baintan adalah jam operasional yakni sekitar pukul 04.30 wita  subuh sampai pukul 0.7.00. Hal lain yang dapat menjadi  daya tarik lainnya, sering diadakan festival  lomba perahu jukung hias.

Baca Juga

Jumlah  dan asal pengunjung, dari sisi jumlah selama  2 bulan terakhir di tahun 2025 yakni November 2025 data dari menunjukkan ada  6.353 pengunjung, naik hampir seratus persen di bulan Desember 2025 menjadi 11,470 pengunjung   Asal pengunjung,  sebagian besar adalah  penduduk lokal Kalimantan Selatan,  namun banyak juga pengujung yang berasal dari Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Barat,  yang berasal dari luar  Kalimantan seperti Jakarta, Bali Surabaya, Sulewesi, Yogyakarta dan seputar Pulau Jawa lain juga cukup banyak bahkan dari manca   negara seperti Malaysia, Kanada, Jerman dan lain-lain. banyak juga yang berwisata ke Pasar Lok Baintan.

Di tengah Pasar Terapung Lok Baintan yang masih berkembang hingga sekarang, beberpa tantangan yang patut diantisipasi dalam rangka kelestariannya  baik sebagai  pasar tradisional maupun sebagai wisata budaya, antara lain : pesatnya desakan tersedianya layanan  transaksi jual  beli di pasar modern dan layanan  online yang lebih yang lebih mudah, murah  dan cepat,  regenerasi pedagang muda yang mau melanjutkan tradisi berdagang di atas perahu.

Waktu  operasional pasar yang terbatas dari subuh 04.30  sampai dengan pukul 06.30/0.7.00 wita   merupakan waktu yang sempit apa lagi jika pengunjung berasal dari tempat yang cukup jauh.

Sementara untuk sampai ke lokasi memakan waktu ber jam-jam.

Baca Juga

Faktor lain dari segi ekonomi,  ketidakpastian pasokan barang kadang barang yang dicari kosong.  Dari sudut  wisata, akses menuju lokasi masih menggunakan kelotok  yang Sebagian masih sangat sederhana dengan tempat duduk berupa lantai papan beralas tikar plastik, belum tersedia kelotok  bernuasa seperti kelotok pesiar.

Di samping itu belum pula tersedia  baju  pelampung sebagai SOP pengaman bagi para penumpang dermaga yang masih seadanya belum ramah untuk pengunjung, biaya juga reletif mahal belum mengakomodir masyarakat kelas ekonomi bawah yang mau berwisata, faktor  kebersihan lingkungan juga masih perlu ditingkatkan dan masih banyak lagi tantangan yang harus diantisipasi antara lain seperti belun terbangun spot-spot tempat persinggahan sebagai pengembangan wisata lainnya, entah berupa  warung makan yang memiliki ciri khas atau yang diunggulkan oleh masyarakat setempat, atau pusat kerajinan pembuatan manik-manik/airguci yang merupakan kekayaan budaya milik Kabupaten Banjar atau hal lain yang sekiranya  memiliki daya tarik, Sejumlah tantangan tersebut tentu tidak bisa diselesaikan oleh salah satu dinas saja, seperti Dinas Pariwisata beserta Pokdarwisnya,  melainkan harus ada kerjasama  atau bersinergi dengan sejumah dinas lainnya termasuk BUMN,  media massa maupun media sosial serta masyarakat setempat.**

Baca Artikel Lainnya

Tinggalkan komentar