Refleksi Krisis Cuaca Kalsel: Dari Polemik Lisan Menuju Kesungguhan Mitigasi Bencana

by baritopost.co.id
0 comments 2 minutes read
Bujino A Salan

Banjarmasin, BARITOPOST.CO.ID – Dinamika cuaca ekstrem yang melanda Kalimantan Selatan dalam beberapa bulan terakhir memicu refleksi mendalam di tengah masyarakat. Pergeseran drastis dari bencana banjir bandang pada awal tahun menuju kemarau berkepanjangan yang memicu Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) saat ini, meninggalkan catatan penting mengenai tata kelola krisis dan etika komunikasi publik bagi para pemangku kebijakan.

Polemik ini bermula dari pernyataan seloroh Gubernur Kalsel, H. Muhidin, pada Januari lalu yang mengaitkan penanganan banjir dengan kehadiran pawang hujan.

Meski kemudian diklarifikasi sebagai kelakar, situasi lapangan saat ini di mana hujan tidak kunjung turun selama kurang lebih empat bulan memantik beragam respons dari berbagai elemen masyarakat, termasuk dari sisi spiritual dan organisasi kemasyarakatan.

Spiritualis lokal, Bujino A Salan berpandangan bahwa ada kemungkinan pernyataan seloroh tersebut bertransformasi menjadi resonansi energi atau doa yang diijabah.

Keinginan kuat menolak hujan yang sempat terlontar, kini seolah terjawab dengan hilangnya intensitas hujan secara drastis.

Menurut Ketua Forum Intelektual Dayak Nasional (FIDN ) Kalsel , hikmah mendalam yang bisa dipetik dari fenomena ini adalah agar tidak ada lagi pejabat publik yang asal bicara dalam menyikapi sebuah krisis.

Pandangan tersebut senada dengan penegasan Ketua DPW GEPAK Kalsel yang mengingatkan bahwa ucapan seorang pemimpin setara dengan ucapan ulama yang didengar dan ditiru. Oleh karena itu, pejabat hendaknya penuh kehati-hatian dan bijaksana dalam membuat pernyataan publik.

Di tengah masyarakat Banjar yang religius, lisan seorang tokoh publik memikul tanggung jawab moral yang besar serta harus mencerminkan empati terhadap penderitaan rakyat.

Dalam perspektif sosiologi budaya, kesungguhan untuk keluar dari krisis ini idealnya melingkupi pertanggungjawaban moral dan aksi nyata.

Upaya perbaikan etika publi termasuk meluruskan narasi masa lalu dengan penuh kerendahan hati dipandang mampu memberikan keteduhan psikologis bagi masyarakat yang terdampak bencana kekeringan.

Namun, di atas segala pendekatan simbolik, langkah konkret berbasis sains dan syariat kini menjadi fokus utama di lapangan.

Pemerintah Provinsi Kalsel bersama BNPB dan BMKG terus mengandalkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dengan menyemai es kering di langit Banua untuk merangsang hujan guna memadamkan karhutla.

Secara bersamaan, pendekatan spiritual melalui pelaksanaan Salat Istisqa dan doa bersama terus digalakkan sebagai wujud ikhtiar yang lurus demi pulihnya bumi Kalimantan Selatan.

Penulis/Editor: Mercurius

Follow Google News Barito Post

​

Baca Artikel Lainnya

Tinggalkan komentar