oleh

Kalsel segera Terapkan Migrasi Digital

Banjarmasin, BARITO – Kalimantan Selatan menjadi salah satu dari 12 provinsi di Indonesia yang menjadi lokasi ujicoba menerapkan analog switch off (ASO) yang ditargetkan pada November 2022.

“Kalsel menjadi salah satu provinsi untuk ujicoba penerapan ASO pada pertengahan 2021 ini,” kata Komisioner Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Kalsel Marliyana di Banjarmasin, Kamis (4/2/2021).

Menurut Marliyana ASO atau migrasi dari teknologi analog ke teknologi digital ini merupakan amanat dari Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja, yang mensyaratkan ASO sudah terealisasi tahun 2022 dan tidak ada lagi siaran analog.

“Jadi migrasi ke siaran digital ini merupakan keharusan yang harus disiapkan lembaga penyiaran, terutama televisi,” tegas Yana panggilan akrab Marliyana.

Tahap pertama migrasi ini dilakukan di 12 kota Nielson, seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Solo, Semarang, Surabaya, Medan, Banda Aceh, Banjarmasin, Samarinda, Tarakan dan Serang pada 39 Juni hingga 17 Agustus 2021.

“Juga prioritas perbatasan negara, yakni Batam,” tambahnya yang belum lama ini mengikuti Rapat Koordinasi Simulasi Pelaksanaan ASO Bertahap, yang dilaksanakan Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kominfo) RI.

Untuk kesiapan mux untuk ASO tahap pertama di Kalsel tersedia empat mux milik TVRI, Trans, Metro dan Emtek untuk digunakan televisi analog, baik lembaga penyiaran swasta (LPS), lembaga penyiaran publik lokal (LPPL) maupun lembaga penyiaran komunitas (LKP).

“Jadi bisa menghubungi pemilik mux untuk dapat menggunakan kanal digital yang sudah disediakan,” jelas Yana.

Sedangkan masalah tarif, menurut Yana, sebenarnya sudah diatur oleh pemerintah sesuai dengan kualitas digital yang disediakan maupun biaya infrastruktur yang dikeluarkan pemilik mux tersebut.

“Masalah ini masih yang belum rampung, karena masih ada pemilih mux yang belum selesai proses penghitungannya untuk menetapkan biaya sewa mux per bulan,” katanya.

Diakui masalah sewa mux ini memang menjadi perdebatan, karena televisi lokal kelihatannya tidak mampu untuk membayar sewa mux yang ditetapkan pemilik.

“Ini masih dibicarakan, namun diharapkan bisa mendapatkan harga standar yang tidak memberati televisi lokal, yang saat ini terkendala pemasukan selama Covid-19 berlangsung,” ujarnya.

Masalah lain juga menyangkut kesiapan masyarakat dan akses terhadap perangkat STB/TV digital yang berbeda, sehingga bisa menikmati tayangan televisi yang bersih, canggih dan jernih.

“Karena pembagian STB/TV digital ini hanya diperuntukan bagi warga miskin sebanyak 554.219 rumah tangga miskin,” tambahnya.

Rilis/Sopian

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed