Barabai, BARITOPOST.CO.ID – Pengelolaan sampah dari rumah mulai didorong menjadi kebiasaan warga Desa Matang Ginalun, Kecamatan Pandawan, Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST).
Desa tersebut dipilih sebagai pilot project Desa Peduli Sampah. Program ini diarahkan untuk mengubah kebiasaan masyarakat, dari sekadar membuang sampah menjadi memilah dan mengolahnya sejak dari sumber.
Kegiatan yang berlangsung di Kantor Desa Matang Ginalun, Jumat (17/7/2026), melibatkan perangkat desa, RT, pengelola Tempat Pengolahan Sampah Reduce Reuse Recycle (TPS3R), Bank Sampah TPS3R serta masyarakat.
Warga mendapatkan pemahaman mengenai cara mengelola sampah yang lebih tepat, mulai dari mengurangi penggunaan barang sekali pakai, memilah sampah rumah tangga hingga memanfaatkan fasilitas pengolahan sampah yang tersedia di desa.
Kepala DLH HST H. Mursyidi melalui Kepala Bidang Persampahan, Limbah B3 dan Peningkatan Kapasitas, Ahmad Fadillah, mengatakan perubahan kebiasaan masyarakat menjadi kunci dalam menangani persoalan sampah.
“Pilot project ini diharapkan menjadi contoh yang dapat dikembangkan di desa lain, sehingga kepedulian terhadap sampah tumbuh dari masyarakat dan diterapkan secara berkelanjutan,” ujar Ahmad.
Menurutnya, persoalan sampah tidak cukup diselesaikan hanya dengan pengangkutan dan pembuangan. Sampah perlu dikurangi dan dipilah sejak dari rumah agar jumlah limbah yang berakhir di tempat pembuangan dapat ditekan.
Keberadaan TPS3R dan Bank Sampah TPS3R juga menjadi bagian dari upaya tersebut. Sampah yang masih memiliki nilai guna maupun nilai ekonomi dapat dipisahkan dan dikelola, sementara sampah yang tidak dapat dimanfaatkan dapat ditangani sesuai prosedur.
Kepala Desa Matang Ginalun, Mursalin, menyambut baik program tersebut. Ia menilai penunjukan Matang Ginalun sebagai lokasi percontohan menjadi momentum untuk meningkatkan kepedulian warga terhadap kebersihan lingkungan.
Menurutnya, keberhasilan program tidak hanya bergantung pada kegiatan sosialisasi. Kebiasaan memilah dan mengelola sampah harus terus dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.
“Dukungan warga sangat diperlukan agar pengelolaan sampah tidak berhenti pada sosialisasi, tetapi benar-benar menjadi kebiasaan,” kata Mursalin.
Pengelolaan sampah berbasis masyarakat juga dinilai dapat membuka peluang pemanfaatan sampah yang masih memiliki nilai ekonomis. Karena itu, koordinasi antara warga, RT, pengelola TPS3R dan Bank Sampah menjadi penting agar sistem yang dibangun dapat berjalan secara rutin.
Matang Ginalun diharapkan dapat menunjukkan hasil dari penerapan Desa Peduli Sampah tersebut. Jika berjalan baik, pola pengelolaannya dapat menjadi contoh yang diterapkan di desa lain dengan menyesuaikan kondisi masing-masing wilayah.
Pada akhirnya, keberhasilan program tidak hanya diukur dari berkurangnya sampah yang dibuang, tetapi juga dari tumbuhnya kebiasaan baru masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan mulai dari rumah sendiri.
Follow Google News Barito Post