DKPP HST Terima Laporan Pokdatan Pembudidaya Ikan Terdampak Musim Kemarau

(foto:istimewa)

Barabai, BARITOPOST.CO.ID – Musim kemarau yang melanda Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) mulai berdampak terhadap pembudidaya ikan. Sejumlah kolam mengalami kekeringan, sementara cuaca panas juga menyebabkan kematian ikan.

Salah satu yang terdampak yakni Pokdakan Raudatul Ulum Mubarak di Desa Pemangkih Seberang, Kecamatan Labuan Amas Utara (LAU).

Kelompok tersebut membudidayakan ikan nila menggunakan kolam terpal. Kondisi cuaca panas membuat suhu air di kolam meningkat dan sulit dikendalikan.

Misera, anggota Pokdakan Raudatul Ulum Mubarak, mengatakan kematian ikan di kolam mereka mencapai sekitar 8.000 ekor.

Padahal, sebelumnya terdapat sekitar 10.000 ekor bibit ikan nila yang dibudidayakan. Kini, hanya sekitar 2.000 ekor yang masih bertahan.

“Yang mati sekitar 8.000 ekor. Awalnya ada 10.000 ekor, sekarang tersisa sekitar 2.000 ekor,” katanya, Jumat (18/9/2026).

Akibat kejadian tersebut, Misera menyebut pihaknya belum menghitung secara pasti total kerugian yang dialami.

“Untuk kerugian, belum dihitung,” ujarnya.

Sementara, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan (DKPP) HST melalui Kabid Perikanan, Syaifuddin Noor, mengatakan sedikitnya empat kelompok pembudidaya ikan telah melaporkan terdampak musim kemarau.

“Untuk sementara, ada empat kelompok yang sudah melaporkan terdampak. Dampaknya berbeda, ada kolam yang mengalami kekeringan dan ada juga ikan yang mati karena suhu air meningkat,” ujar Syaifuddin.

Hingga saat ini, ada empat kelompok pembudidaya ikan yang telah melaporkan dampak musim kemarau ini kepada DKPP HST. Keempat kelompok tersebut mengalami dampak yang berbeda, tergantung jenis kolam dan ikan yang dibudidayakan.

Dua di antaranya yakni Pokdakan Awang Maju Bersama di Desa Jamil dan Pokdakan Anugerah Tatah Makmur di Kecamatan Labuan Amas Selatan (LAS).

Kedua kelompok tersebut sama-sama membudidayakan ikan gabus atau haruan menggunakan kolam tanah.
Kemarau membuat kolam yang digunakan mengalami kekeringan atau surut, sehingga tidak dapat melakukan kegiatan budidaya.

Sementara Pokdakan Raudatul Ulum Mubarak di Desa Pemangkih Seberang, Kecamatan LAU, mengalami persoalan berbeda karena menggunakan kolam terpal untuk membudidayakan ikan nila.

Cuaca panas membuat suhu air di dalam kolam meningkat. Kondisi tersebut kemudian menyebabkan ikan nila mengalami kematian secara massal.

Kelompok keempat, yakni Pokdakan Mufakat di Desa Mahang Baru, Kecamatan LAS, juga membudidayakan ikan haruan menggunakan kolam tanah.

Kelompok tersebut turut terdampak karena kolam mengalami suhu panas dan pengambilan air yang agak sulit di dapat selama musim cuaca panas ini.

Syaifuddin menjelaskan, kondisi kemarau memang memberikan dampak sekali atas kelangsungan terhadap pembudidaya ikan, dengan sistem kolam terpal yang digunakan.

“Kalau kolam tanah, kendalanya air yang semakin berkurang karena kekeringan. Sedangkan pada kolam terpal, cuaca panas membuat suhu air meningkat sehingga bisa menyebabkan ikan mengalami kematian,” jelasnya. (*)

Follow Google News Barito Post

​

Related posts

Rutan Kelas IIB Barabai dan DLH HST Kolaborasi Kembangkan Pengelolaan Sampah Terpadu Sekaligus Berdayakan Warga Binaan

RSHD Barabai Bersiap Hadapi Penilaian dan Evaluasi Pelayanan Tahun 2026

Disdik HST Perkuat Kapasitas Satuan Pendidik Dalam Pengelolaan Dana BOS