oleh

Ritual Adat Mampakanan Sahur Dan Mamapas Lewu Perlu Digalakan

Para tamu undangan serta beberapa tokoh dayak di Kotim, menari “Manasai” secara bersama sama di acara ritual adat Mampakanan Sahur dan Mamapas Lewu. (zai/brt)

Sampit,BARITO – Salah satu upacara ritual adat Dayak yang biasa pada tiap tahunnya dilakukan, khususnya bagi orang dayak yang berada di Sampit yaitu Mampakanan sahur dan Mamapas lewu.

Dalam sambutannya ketua majelis agama Hindu Kaharingan Kotim, Pungkal yang sekarang menjabat camat mengatakan bahwa kegiatan upacara ritual semacam ini tidak semeriah pada tahun sebelumnya.

Yang mana menurutnya pada tahun sebelumnya utusan pada setiap desa selalu mengirimkan tokoh orang dayak untuk mengikuti ritual, akan tetapi sekarang ini tidak terlihat lagi.

“Saya berharap ke depannya acara semacam ini perlu banyak dukungan semua pihak, dan acara semacam ini juga dapat lebih meriah lagi pada tahun berikutnya, ” harap Pungkal.

Upacara adat dilaksanakan, Senin (26/11) bertempat di Taman Miniatur Budaya Kotim, Jalan Sudirman. Sebelum kegiatan itu dilaksanakan para undangan diberi tampung tawar dan dilanjutkan, dengan menampilkan tarian khas dayak Mansai secara bersama sama sambil diberikan sungguhan minuman khas dayak kepada setiap yang mengikuti tarian.

Acara kembali berlanjut dengan arakan mobil dan motor dengan terdengarnya teriakan malahap orang dayak, mengelilingi sepanjang Jalan Sudirman dan kembali lagi ke Taman Miniatur Budaya Kotim, dengan acara penutup doa bersama agar khususnya Kalteng (Sampit) terhindar dari marabahaya. zai/ahy

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed