oleh

Refleksi 1 Tahun Musibah Banjir Besar

Pelaihari,BARITO– Hari ini Sabtu, 15 Januari 2022 tepat 1 tahun berjalan pada 15 Januari 2021 lalu merupakan hari yang menjadi catatan sejarah bagi Pemerintah Kabupaten Tanah Laut Kalimantan Selatan serta masyarakat, dimana saat itu terjadi bencana alam berupa banjir yang dinilai terbesar dari peristiwa serupa ditahun-tahun sebelumnya.

Sejumlah infrastruktur dan fasilitas umum mengalami kerusakan hebat akibat serangan jutaan kubik air yang saat itu curah hujan memang cukup tinggi pada daerah ini.

Jalan-jalan di desa dan di kota mengalami kerusakan. Areal persawahan bagaikan lautan, tanah di pegunungan mengalami longsor hingga merusak tanaman disekitarnya berikut sampai kesawah warga turut rusak, hingga sampai putusnya jembatan sebagai penghubung antar kabupaten dijalur nasional, sehingga arus lalu lintas pun dialihkan ke jalan alternatif.

Bencana banjir besar kala itu, membuat Pemerintah Daerah harus putar otak guna melakukan langkah evakuasi warga walau akhirnya ada dikabarkan makan korban jiwa. Upaya maksimal Pemerintah Daerah pun sudah dengan kekuatan penuh mengerahkan segala yang dimiliki, hingga pada akhirnya pihak swasta pun turut membantu meringankan beban Pemerintah Daerah dalam mengevakuasi warga yakni dengan ikut mengerahkan armada-armada berukuran besar guna mencapai titik lokasi banjir yang dinilai tak akan mampu dilakukan dengan armada kecil, mengingat ketinggian air yang sudah diambang batas wajar.

Pemerintah Kabupaten Tanah Laut melalui dinas tehnis seperti Dinas Pekerjaan Umum Penataan Ruang dan Pertanahan (DPUPRP) pun harus mendata sejumlah kerusakan infrastruktur yang porak-poranda akibat bencana banjir. Tidak ketinggalan pada dinas lainnya seperti Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) pun harus ekstra waspada jika jiwa terancam karena bencana banjir. Begitu pula pada Dinas Sosial (Dinsos) maupun organisasi masyarakat lainnya, Relawan, TNI dan Polri yang memfokuskan pada lancarnya distribusi logistik harus ekstra kerja keras agar tepat sasaran.

Kepala DPUPRP Tanah Laut Agus Sektyaji Jum’at, (14/1/22) kemarin mengatakan, kerusakan infrastruktur hampir menyebar disemua kecamatan. Pada jalan utama provinsi yang harus melewati jalan alternatif tidak luput dari kerusakan, hal ini diakibatkan kekuatan jalan status jalan kabupaten tidak tahan dengan beban kendaraan yang melintasinya.

“Total keseluruah anggaran yang terserap dalam pemulihan infrastruktur yang rusak mencapai Rp 24 milliar lebih dari pos anggaran dana tak terduga,”kata Agus.

Ia menambahkan, seperti jalan di Desa Pabahanan tembus Desa Kunyit sepanjang 5,6 Km telah menyedot anggaran sebesar Rp 10 milliar rupiah lebih. Kemudian Jalan Balirejo sampai ke Bajuin dengan panjang 4,7 Km dengan anggaran Rp 5 milliar rupiah lebih. Jalan di daerah Takisung, Tabanio dan Pagatan Besar memerlukan anggaran Rp 1 milliar rupiah lebih. Ada pula jembatan Krasik diperbatasan Tanah Laut dan Kabupaten Banjar memerlukan perbaikan dengan anggaran Rp 6 milliar rupiah lebih.

Keseriusan Pemerintah Daerah dalam penanganan pasca bencana banjir cukup membuahkan hasil. Sejumlah kerusakan infrastruktur pun kini pulih kembali dan roda perekonomian warga pun kembali normal kendati masih dalam masa pandemi covid 19. baz

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed