Banjarmasin, BARITOPOST.CO.ID – Pengaruh geopolitik global yang berujung pada konflik internasional (Iran, Amerika Serikat, Israel) membuat biro perjalanan haji khusus dan umrah harus menyesuaikan harga dan biaya operasional.
Baca Juga: Dinas PUPR Kalsel Evaluasi Kinerja dan Tingkatkan Serapan Anggaran
Alasannya, sejumlah penyelenggara travel mengalami kerugian karena biaya operasional yang membengkak, terutama dari sektor tiket penerbangan yang mencapai sekitar 60 persen dari total biaya umrah.
Hal itu terungkap dalam halalbihalal Forum Komunikasi Penyelenggara Travel, Umrah dan Haji Khusus (FK PATUH) Kalimantan Selatan (Kalsel), pada Rabu (22/4/2026).
“Kita membahas isu strategis terkait dampak geopolitik global terhadap penyelenggaraan umrah dan haji khusus. Khusunya perlu penyesuaikan harga, sebab dampak geopolitik global membuat biro travel mengalami kerugian,” ucap Ketua FK PATUH Kalsel H Saridi Salimin.
Baca Juga: Dinas PUPR Kalsel Evaluasi Kinerja dan Tingkatkan Serapan Anggaran
Menurutnya, konflik internasional, telah memicu gejolak besar yang berdampak langsung pada industri perjalanan ibadah. “Dampaknya sudah sangat terasa, terutama pada bulan Syawal lalu. Banyak penerbangan jamaah yang mengalami pembatalan karena menggunakan rute transit, seperti melalui Qatar dan negara lainnya,” ujarnya.
Bahkan, sambungnya, kenaikan harga minyak dunia turut memengaruhi harga avtur yang berdampak pada lonjakan harga tiket pesawat, baik domestik maupun internasional.
“Ke depan, penyesuaian harga umrah dan haji khusus tidak bisa dihindari. Kemungkinan mulai diberlakukan untuk keberangkatan setelah musim haji, sekitar Juni 2026,” jelasnya.
Baca Juga: Dinas PUPR Kalsel Evaluasi Kinerja dan Tingkatkan Serapan Anggaran
Kini, sebutnya, biaya umrah sudah berada di atas Rp30 juta. Bahkan, untuk paket ibadah haji tertentu bisa mencapai Rp250 juta hingga Rp500 juta, tergantung fasilitas dan jenis layanan yang dipilih jamaah.
Meski demikian, Saridi optimistis minat masyarakat terhadap ibadah umrah dan haji tetap tinggi, khususnya di Kalimantan Selatan yang dikenal sebagai daerah religius. “Walaupun ada kenaikan harga, kami yakin tidak akan berpengaruh signifikan terhadap minat masyarakat,” tuturnya.
Tersorot pula, adanya kebingungan di masyarakat terkait istilah program haji, seperti haji furoda. “Jadi, istilah tersebut kini mulai mengalami penyesuaian dalam regulasi, meskipun secara prinsip tetap merujuk pada jalur keberangkatan non-kuota regular,” tandasnya.
Baca Juga: Dinas PUPR Kalsel Evaluasi Kinerja dan Tingkatkan Serapan Anggaran
Owner Ma’Ali Wisata M. Ilhami memastikan pula akan melakukan penyesuaian harga sebagai langkah yang tidak terhindarkan. “Masyarakat dapat memahami kondisi ini karena dipengaruhi faktor global yang tidak bisa dikendalikan,” harapnya.
Sementara Owner PT Kamilah Berkat Guru M Zulfan Efendi menyatakan seluruh penyelenggara travel saat ini menghadapi tantangan yang sama. “Jadi, kita sama-sama dan harus melakukan penyesuaian demi menjaga keberlangsungan layanan,” imbuhnya.