Jakarta, BARITOPOST.CO.ID – Pemerintah Indonesia sedang mengambil langkah mitigasi dengan mengalihkan sebagian impor minyak mentah dari negara-negara Timur Tengah (Timteng) ke negara lain yang lebih aman pasokannya, termasuk pasokan dari AS. Kebijakan ini diambil agar ketersediaan untuk kebutuhan nasional tetap terjamin.
Baca Juga: Pemerintah Lindungi Anak di Platform Digital
“Hampir 20% atau setara 25,36 juta barel kebutuhan minyak nasional selama ini berasal dari negara-negara Timur Tengah yang diangkut melalui Selat Hormuz. Selebihnya, Indonesia mengimpor produk ini dari Afrika, Angola, Amerika Serikat, dan Brasil,” ujar Menteri ESDM, Bahlil Lahaladia.
Untuk kebutuhan impor BBM, Bahlil menjelaskan, saat ini Indonesia mendapatkan pasokan dari negara-negara di luar kawasan Timur Tengah, termasuk negara-negara di Asia Tenggara. “Impor BBM relatif tidak masalah,” katanya.
Adapun untuk komoditas Liquefied Petroleum Gas (LPG), yang kebutuhan nasionalnya masih dipenuhi melalui impor sekitar 7,3-7,8 juta ton per tahun, pemerintah mengarahkan sebagian besar pasokannya dari AS. Langkah ini disebut sebagai diversifikasi sumber dan penguatan ketahanan energi nasional.
Baca Juga: Pemerintah Lindungi Anak di Platform Digital
Pemerintah melalui Sidang Anggota DEN ke-1 tahun 2026 juga menyimpulkan perlunya optimalisasi pemanfaatan sumber energi domestik, dengan mengacu pada keberhasilan program biodiesel sebagai salah satu referensi.
Berdasarkan arahan dari Presiden Prabowo, kata Bahlil, jajarannya akan memastikan ketersediaan energi tetap aman, terutama selama Ramadan dan Lebaran. Saat ini, stok BBM, minyak mentah dan LPG disebut berada di atas standar minimum nasional 21 hari, yaitu 23 hari.
Ketersediaan pasokan energi yang tak sampai sebulan ini, kata dia, disebabkan kapasitas penyimpanan nasional yang memang terbatas, dengan angka maksimal 26 hari.
Baca Juga: Pemerintah Lindungi Anak di Platform Digital
Pemerintah mengklaim sedang membangun lagi fasilitas penyimpanan di wilayah Sumatra tahun ini, agar kapasitasnya bisa didongkrak menjadi tiga bulan. “Kalau kita impor banyak, tapi tidak punya storage, mau taruh di mana?,” tandasnya.
Ia juga mengklaim pemerintah belum berencana menaikkan harga BBM bersubsidi. “Jadi aman-aman saja. Hari raya yang baik, puasa yang baik, Insya Allah belum ada kenaikan harga BBM,” imbuhnya.