oleh

Korban Penganiayaan Ayah Sempat Diinapkan Sebelum Dimakamkan

Pihak Biddokkes Polda Kalsel saat membawa dari galian kubur korban Rahel ke ambulan hingga ke kamar mayat RSUD Ulin, pagi Selasa kemarin. (foto:sum/brt)

Banjarmasin, BARITO – Korban penganiayaan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) Rahel Afifah Al Makahwi (7) yang tewas dan dimakamkan ayahnya, kini dibongkar kuburannya, Selasa (6/11) pagi. Bertempat di Jalan Tembus Mantuil Gang Alkhair Kelurahan Basirih, tepatnya di belakang Makam Habib Batilantang pembongkaran kuburan bocah perempuan itu dipimpin Kasat Reskrim Polresta Banjarmasin AKP Ade Papa Rihi  didampingi Kapolsek Selatan Kompol Najamuddin Bustari.

Ikut  juga pihak Bidang kedokteraan dan Kesehatan (Biddokes) Polda Kalimantan Selatan (Kalsel) dipimpin Paursek Ipda Supriyadi. Pembongkaran yang dimulai sejak pukul 09.30 wita dan berakhir pukul 11.00 Wita. disaksikan nenek korban Syarifah Habibah (70) dan sepupu korban Syarifah Bulkis (44) dan untuk kepentingan otopsi

Selanjutnya jenazah dibawa ke kamar mayar atau pemulasaraan untuk diotopsi  yang dipimpin Kabid Dokkes Polda AKBP Erwin di RSUD Ulin dan didampingi Kapolresta Kombes Pol Sumarto.

Kasat Reskrim Polresta Banjarmasin AKP Ade Papa Rihi mengatakan, otopsi itu  guna untuk kepentingan penyidikan penyebab kematian anak dari M Nazirwan alias Habib Tato (51) tersangka pelaku yang menganiaya korban, Rabu sekitar pukul 15.00 Wita di rumahnya Jalan Panglima Batur RT 09 Kelurahan Surgi Mufti Banjarmasin Utara.

AKP Ade menyatakan, rencana ke depan mungkin akan segera dilakukan rekonstruksi, sementara  barang bukti diamankan adalah  sepeda motor yang digunakan saat membawa korban.  Kemudian karpet kecil yang digunakan ada bercak bercak darah. “Untuk  baju pakaian dan lain-lain masih kita lakukan pencarian sebab diduga pelaku membuangnya di sungai di dekat rumahnya,”jelasnya.

Seperti diketahui pelaku marah karena korban diduga ketahuan mencuri uang di sekolahnya. Usai pulang sekolah, korban langsung dimarahi pria bertato yang akrab disapa Habib itu. Diduga korban tubuhnya dihempas kan ke lantai, termasuk dipukul pakai palu.

Usai melakukan khilafnya itu, pelaku baru sadar anaknya dikira pingsan. Dia sudah mencoba membawa ke Rumah Sakit Islam, namun korban sudah dinyatakan tiada. Namun pelaku mengaku anaknya baru saja terjatuh di rumah.

Kepala Korban Mengalami Pendarahan karena Benda Tumpul

Sementara itu hasil otopsi  dari Dokter dr. Mursad  Abdi Sp.F sebagai dokter ahli Forensik beserta personil didampingi Dokkes (Paur Doksik)/ RS Bhayangkara dan Penyidik Polresta Banjarmasin menyatakan, dari pemeriksaan dalam  proses kematian korban diduga disebabkan oleh pendarahan. “Organ vital kepala, mekanisme trauma tumpul di samping kepala sebelah kanan,”sebut Ipda Supriyadi dari Biddokkes Polda.

Dia menambahkan, sebelumnya jenazah didalam peti  persegi panjang di bungkus dengan terpal bewarna coklat. Korban mengenakan kain kafan bewarna kecoklatan karena bercampur tanah lima lapis.

Untuk kondisi panjang tubuh jenazah 126, Lebar dada 68 dan berat badan 29 Kg. Bagian kepala lebarnya 54 Cm dan tidak terdapat kaku jenazah. Diduga meninggal 5 – 6 hari sebelum pemeriksaan otopsi karena mulai ada proses pembusukan.

Senelumnya nenek korban, Syarifah menambahkan, tersangka yang sehari-harinya penjaga malam di Gang Masjid Jami 2 Banjarmasin Utara sempat membawa korban ke rumah sore itu sekitar pukul 17.00 Wita. Karena sudah mau senja tersangka mencari  tukang gali kubur dan yang memandikan belum datang.

Selanjutnya korban disimpan di kamar rumah neneknya yang berseberangan dengan lokasi makam Rahel. Kemudian baru esok harinya dikubur, namun sang nenek tidak menanyakan kenapa meninggal dunia maupun melihat tubuh korban tersebut.   korban merupakan anak pertama dari istrinya yang sudah berpisah bernama Lina Sapitri. ndy/mr’s

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed