Ngayau : Memahami Akar Budaya dan Pergeseran Maknanya

by baritopost.co.id
0 comments 2 minutes read
H. Junaidi - (Ketua DPW GEPAK Kalsel, Pemerhati Budaya)

Balikpapan, BARITOPOST.CO.ID – Kata “NGAYAU” berasal dari “kayau” yang secara harfiah berarti “musuh”. Bagi masyarakat Dayak, konflik dan peperangan merupakan bagian integral dari sejarah dan budaya mereka, yang seringkali muncul dari perselisihan antar suku.

Ada beberapa tujuan dan motivasi di balik praktik Ngayau pada masa itu.

Pertama, untuk memperoleh kekuatan spiritual tambahan yang diyakini dapat meningkatkan perlindungan. Kedua, sebagai bentuk balas dendam atas kesalahan yang dilakukan musuh.

Ketiga, kepercayaan bahwa kepala musuh adalah sumber untuk membangun ketahanan, karena diyakini memiliki kekuatan magis untuk melindungi bangunan. Keempat, sebagai upaya melestarikan diri dalam kondisi persaingan antar suku. Dan kelima, untuk melindungi pertanian dan sumber daya vital yang sangat penting bagi kelangsungan hidup masyarakat Dayak.

Menurut pemerhati budaya Kalimantan H Junaidi masyarakat Dayak juga menyadari bahwa perdamaian adalah aspirasi yang mulia.

Sebuah peristiwa bersejarah terjadi pada tanggal 22 Mei hingga 24 Juli 1894 di Desa Tumbang Anoi, Kahayan Hulu, Kalimantan Tengah. .

Peristiwa ini dikenal sebagai “Majelis Agung Tumbang Anoi”, di mana suku-suku Dayak secara kolektif sepakat untuk mengakhiri tradisi peperangan yang telah lama mendefinisikan kehidupan mereka. “Sejak kesepakatan itulah tradisi Ngayau secara adat resmi dilarang” beber pria yang juga Ketua DPW Gerakan Pemuda Asli Kalimantan (GEPAK ) Kalsel kepada Barito Post di Balikpapan, Jumat (23/10/2026)

Memasuki tahun 1970 hingga 1980-an, makna Ngayau mengalami pergeseran.

Di era ini muncul mitos atau urban legend yang kuat di kalangan masyarakat bahwa setiap pembangunan fondasi jembatan besar membutuhkan kurban kepala manusia agar bangunan tersebut kokoh dan tidak roboh.

Orang tua zaman dulu kerap berpesan kepada anak-anaknya, “Jangan main jauh-jauh atau keluar saat magrib, nanti diculik orang ngayau buat ditanam di fondasi jembatan.” tambahnya .

Dalam konteks asli masyarakat Suku Dayak, ngayau adalah ritual perburuan kepala musuh dalam tradisi peperangan antarsuku yang sebenarnya sudah resmi dilarang sejak Perjanjian Tumbang Anoi tahun 1894.

Namun pada era 1970-an, ingatan kolektif tentang pemotongan kepala tersebut diadopsi oleh masyarakat luas dan bergeser maknanya. Istilah ngayau kemudian identik dengan sosok penculik anak misterius yang mengincar kepala anak-anak.

“Sejarah ini penting untuk diluruskan, agar kita tidak terjebak pada mitos, namun tetap menghormati nilai perdamaian yang telah disepakati oleh para leluhur Dayak sejak Tumbang Anoi”pungkas pria yang juga pembina Organisasi Rakyat Indonesia (ORI) dan FKPWK Kalsel ini .

Penulis/Editor: Mercurius

Follow Google News Barito Post

​

Baca Artikel Lainnya

Tinggalkan komentar