Oleh : Hartiningsih, M.I.Kom. dan Arief Anwar, ST,MT. Peneliti BRIDA Prov Kalsel
Kalimantan Selatan memiliki beragam destinasi wisata baik berbasis alam, wisata buatan, edukassi, religi, sejarah, budaya dan lain sebagainya.
Konteks wisata budaya jumlahnya mencapai puluhan buah yang tersebar dibeberapa kabupaten kota, diantaranya wisata Pasar Terapung Lok Baintan, Pasar Terapung Muara Kuin, Makam dan Masjid Sultan Suryiansyah. Masjid Jami Sungai Jingah, Museum Kayuh Baimbai Masjid Apung Ziadatul Abrar di Tanahbumbu, Wasaka.
Museum Rakyat Hulu Sungai Selatan Kampung Tradisonal Sasirangan dan lain sebagainya.
Salah satu wisata budaya yang potensial sebagai pengerak ekonomi masyarakat adalah Pasar Terapung Lokbaintan Martapura Kabupaten Banjar Martapura.
Pasar Terapung Lokbaintan merupakan pasar terapung tradisional yang berlokasi di Desa Lok Baintan, Kecamatan Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar. Pasar ini memiliki sejarah yang panjang dan merupakan bagian penting dari budaya perdagangan di Kalimantan Selatan.
Tumbuh dan berkembangnya Pasar Terapung Lok Baintan tidak terlepas dari kehidupan masyarakat Banjar yang pada zaman dahulu sebagian besar tinggal di bantaran sungai.
Keberadaan yang terjadi secara alami tersebut menginspirasi para pedagang beraktifitas jual beli dagangan dilakukan di sungai menggunakan transportasi jukung atau kelotok menjadi sebuah tradisi. Proses jual beli tawar memawar antar pedagang dengan pembeli terjalin di atas jukung, sementara posisi pembeli di atas jamban-jamban (dermaga apung yang merupakan tempat persinggahan.
Dinamika jual beli antar pedagang dengan pembeli seperti itu berlangsung berpuluh-puluih tahun yang kemudian didalam perkembangannya, secara alami pula para pedagang menjadikan anak Sungai Martapura sebagai titik kumpul mereka.
Titik kumpul para pedagang di anak sungai berlangsung hingga sekarang dan dengan adanya titik kumpul menjadikan suasana lebih ramai, antar sesama pedagang dan antar pedagang dengan pembeli tercipta keakraban dan interaksi sosial, pembeli memiliki kesempatan memilah dan memilih barang yang sesuai kebutuhan, ketersedian barang jualan lebih variative yang bukan saja berasal dari hasil pertaian seperti padi dan beras serta jagung, tetapi juga hasil kebun seperti jeruk kates, ubi-ubian, kaang tanah, kelapa, kakau dan lain sebaginya, ada pula berupa hasil hutan berupa kayu, rotan dan lain lain. Tidak sedikit pula yang menjual hasil kerajinan tangan, dan tidak ketinggalan pula yang menjual kebutuhan 9 bahan pokok berupa minyak goreng, sabun, telur. tepung, gula pasir dan lain sebagainya, tersedia juga kuliner Banjar berupa nasi kuning, soto Banjar, Ketupat Kandangan, dan peberapa menu menarik lainnya.
Hal yang lebih potensial lagi, pasar Terapung Lok Baintan bukan saja sebagai ruang transaksi publik berupa jual beli barang dagangan, tetapi juga sebagai destinasi wisata budaya.
Terdapat banyak hal unik yang menjadi daya tarik wisata budaya antara lain : pertama, semua aktivitas transaksi dilakukan dari atas perahu. Ke dua, sebagian pedagang masih melakukan system barter antar sesama pedagang, ke tiga yang merupakan salah satu ciri khas cukup menarik “jenis kelamin pedagang” semua perempuan yang familiar dipanggil Acil. Panggilan Acil tersebut terlepas apakah pedagang tersebut masih muda atau sudah berumur, semua dipanggil Acil (Tante). Ke empat “(pedagang) si Aci-Acil menggunakan tanggui (topi besar). Ke lima tercipta interaksi sosial dan nilai kultural, keramahan antar pedagang maupun pedagang dengan para pembeli, ke enam dan yang menjadi ciri paling spesifik Pasar Terapung Lok Baintan adalah jam operasional yakni sekitar pukul 04.30 wita subuh sampai pukul 0.7.00. Hal lain yang dapat menjadi daya tarik lainnya, sering diadakan festival lomba perahu jukung hias.
Jumlah dan asal pengunjung, dari sisi jumlah selama 2 bulan terakhir di tahun 2025 yakni November 2025 data dari menunjukkan ada 6.353 pengunjung, naik hampir seratus persen di bulan Desember 2025 menjadi 11,470 pengunjung Asal pengunjung, sebagian besar adalah penduduk lokal Kalimantan Selatan, namun banyak juga pengujung yang berasal dari Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, yang berasal dari luar Kalimantan seperti Jakarta, Bali Surabaya, Sulewesi, Yogyakarta dan seputar Pulau Jawa lain juga cukup banyak bahkan dari manca negara seperti Malaysia, Kanada, Jerman dan lain-lain. banyak juga yang berwisata ke Pasar Lok Baintan.
Di tengah Pasar Terapung Lok Baintan yang masih berkembang hingga sekarang, beberpa tantangan yang patut diantisipasi dalam rangka kelestariannya baik sebagai pasar tradisional maupun sebagai wisata budaya, antara lain : pesatnya desakan tersedianya layanan transaksi jual beli di pasar modern dan layanan online yang lebih yang lebih mudah, murah dan cepat, regenerasi pedagang muda yang mau melanjutkan tradisi berdagang di atas perahu.
Waktu operasional pasar yang terbatas dari subuh 04.30 sampai dengan pukul 06.30/0.7.00 wita merupakan waktu yang sempit apa lagi jika pengunjung berasal dari tempat yang cukup jauh.
Sementara untuk sampai ke lokasi memakan waktu ber jam-jam.
Faktor lain dari segi ekonomi, ketidakpastian pasokan barang kadang barang yang dicari kosong. Dari sudut wisata, akses menuju lokasi masih menggunakan kelotok yang Sebagian masih sangat sederhana dengan tempat duduk berupa lantai papan beralas tikar plastik, belum tersedia kelotok bernuasa seperti kelotok pesiar.
Di samping itu belum pula tersedia baju pelampung sebagai SOP pengaman bagi para penumpang dermaga yang masih seadanya belum ramah untuk pengunjung, biaya juga reletif mahal belum mengakomodir masyarakat kelas ekonomi bawah yang mau berwisata, faktor kebersihan lingkungan juga masih perlu ditingkatkan dan masih banyak lagi tantangan yang harus diantisipasi antara lain seperti belun terbangun spot-spot tempat persinggahan sebagai pengembangan wisata lainnya, entah berupa warung makan yang memiliki ciri khas atau yang diunggulkan oleh masyarakat setempat, atau pusat kerajinan pembuatan manik-manik/airguci yang merupakan kekayaan budaya milik Kabupaten Banjar atau hal lain yang sekiranya memiliki daya tarik, Sejumlah tantangan tersebut tentu tidak bisa diselesaikan oleh salah satu dinas saja, seperti Dinas Pariwisata beserta Pokdarwisnya, melainkan harus ada kerjasama atau bersinergi dengan sejumah dinas lainnya termasuk BUMN, media massa maupun media sosial serta masyarakat setempat.**