BARITOPOST.CO.ID – Aroma rumput basah, suara takbir, hingga gema doa di halaman masjid, selalu menjadi penanda datangnya Iduladha 1447 Haijriah.
Pada momen ini, umat Islam tak sekadar menyembelih hewan kurban. Ada nilai kepatuhan, pengorbanan, sekaligus kepedulian sosial yang dirawat dari tahun ke tahun.
Baca Juga: Perundingan Damai Iran – AS Masih Berlangsung, Ini Poinnya
Ibadah kurban, menjadi bagian penting dalam peringatan Idul Adha 1447 Hijriah yang berlangsung Rabu, 27 Mei 2026. Penyembelihan dilakukan usai salat Id, lalu berlanjut hingga hari tasyrik pada 11, 12, dan 13 Dzulhijjah.
Dalam tradisi Islam, kurban bukan hanya soal membagi daging. Kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail menjadi simbol ketundukan atas perintah Allah SWT.
Dari sana, lahir makna keikhlasan dan kesediaan berbagi kepada sesama. Sejumlah ulama menganjurkan agar penyembelihan dilakukan sesuai adab. Tidak tergesa, tidak menyakiti hewan, serta diawali doa.
Baca Juga: Perundingan Damai Iran – AS Masih Berlangsung, Ini Poinnya
Dalam beberapa kitab fikih, doa penyembelihan dibaca sebagai bentuk penyerahan diri dan permohonan agar ibadah diterima. Doa yang umum dibaca yakni: “Allahumma hadzihi minka wa ilaika, fataqabbal minni ya karim.”
Artinya: “Ya Allah, hewan ini adalah nikmat dari-Mu dan kepada-Mu aku mendekatkan diri. Maka terimalah ibadah kurbanku.” Doa tersebut, tercantum dalam sejumlah rujukan ulama, termasuk karya Sayid Utsman bin Yahya dan Syekh Nawawi al-Bantani.
Sebelum penyembelihan, umat Islam juga dianjurkan membaca basmalah, bershalawat kepada Nabi Muhammad, lalu mengumandangkan takbir dan tahmid. “Bismillahirrahmanirrahim,” menjadi pembuka.
Baca Juga: Perundingan Damai Iran – AS Masih Berlangsung, Ini Poinnya
Setelah itu dilanjutkan shalawat nabi dan takbir tiga kali: “Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar walillahil hamd.” Selain bacaan doa, adab penyembelihan ikut menjadi perhatian. Hewan diarahkan ke kiblat. Pisau harus tajam.
Proses penyembelihan dilakukan cepat agar tidak menyiksa hewan kurban. Di banyak daerah, suasana penyembelihan kurban juga menjadi ruang kebersamaan warga. Anak-anak berkumpul di halaman masjid. Orang dewasa membagi tugas.
Sebagian menimbang daging, sebagian lain menyalurkan kepada masyarakat yang membutuhkan. Dari halaman musala kecil hingga pelataran masjid besar, Idul Adha selalu menghadirkan pelajaran yang sama: tentang rela memberi, tanpa banyak meminta kembali.