Banjarmasin, BARITOPOST.CO.ID – Ada yang berbeda dari safari dakwah Komunitas Riau Indonesia Mengaji di Banjarmasin. Datang bukan cuma membawa ceramah, gerakan ini justru pulang membawa komitmen besar: 2.000 lebih Al-Qur’an diwakafkan dalam satu kegiatan.
Wakaf tersebut terkumpul dalam safari dakwah bertema “Waqaf One Family One Qur’an” yang digelar di Cafe Nostalgia, Jalan Belitung Darat RT 07 Banjarmasin, Kamis (8/10/2026) sore.
Kajian yang menghadirkan Habib Ahmad Al Habsyi itu diperuntukkan bagi muslimah dan terbuka untuk umum.
Di tengah kegiatan, satu pesan terus digelorakan: satu keluarga, satu Al-Qur’an. Gagasannya sederhana. Jika satu keluarga menyisihkan wakaf untuk satu mushaf, maka semakin besar peluang Al-Qur’an menjangkau masyarakat yang selama ini masih kekurangan.
Istri Sekda Provinsi Kalsel Hj. Masrupah Syarifuddin, Kadis Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Kalsel Syamsir Rahman, serta Istri Owner Cafe Nostalgia Hj. Nella Aftahuddin menjadi salah satu yang turut menyerahkan wakaf. Bersama para peserta lainnya, jumlah Al-Qur’an yang terkumpul disebut mencapai lebih dari 2.000 mushaf.
Komunitas yang lahir di Pekanbaru, Riau, itu mengaku sudah tujuh tahun menjalankan safari dakwah sekaligus gerakan wakaf Al-Qur’an. Di Kalimantan Selatan saja, sedikitnya 30 titik menjadi sasaran safari. Majelis taklim, pondok pesantren hingga lembaga pemasyarakatan masuk dalam rute gerakan tersebut. Secara keseluruhan, komunitas ini menyebut telah menghimpun dan menyalurkan sekitar 1 juta Al-Qur’an ke berbagai daerah.
Di balik gerakan tersebut terselip angka yang menjadi alasan mereka terus mengetuk pintu para pewakaf. Salah seorang anggota Komunitas Riau Indonesia Mengaji menyebut jumlah Al-Qur’an di Indonesia masih sekitar 52 juta. Sementara penduduk Muslim Indonesia telah mencapai sekitar 230 juta jiwa.
Kondisi itulah yang mendorong komunitas bersama para guru dan pegiat dakwah untuk terus mencetak dan mendistribusikan mushaf.
Pesan dakwah di Cafe Nostalgia tak berhenti pada ajakan mewakafkan Al-Qur’an. Habib Ahmad Al Habsyi juga menyentil kebiasaan sebagian orang yang bersemangat berbagi, tetapi terkadang lupa kepada orang yang paling dekat yakni orang tua.
Dalam kajian tersebut disampaikan kisah Abdurrahman bin Auf, sahabat Nabi Muhammad SAW yang dikenal memiliki harta dan gemar bersedekah. Pertanyaan mengenai siapa yang paling utama menerima sedekah kemudian menjadi pintu masuk pesan yang sangat sederhana.
Orang tua harus didahulukan.
“Urutan pertama, paling utama, kasih dulu orang tuamu,” demikian inti pesan yang disampaikan.
Setelah orang tua, barulah perhatian dapat diperluas kepada kerabat, anak yatim, orang miskin hingga ibnu sabil.
“Berbakti kepada orang tua bukan hanya soal uang. Ada kasih sayang, penghormatan dan perhatian yang nilainya jauh melampaui materi,” ujarnya.
Penulis: Filarianti
Editor: Mercurius
Follow Google News Barito Post