Barabai, BARITOPOST.CO.ID – Mutu pelayanan dan keselamatan pasien menjadi fokus utama dalam Survei Akreditasi Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS) di RSUD H. Damanhuri Barabai, Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), 13–15 Oktober 2026.
Survei ini menjadi kesempatan untuk mengevaluasi penerapan standar pelayanan di rumah sakit, sekaligus mengidentifikasi hal-hal yang masih perlu diperbaiki agar pasien mendapatkan pelayanan kesehatan yang aman dan bermutu.
Ketua tim survei KARS, dr. Vally Christly Helyawati Ratulangi, M.Kes., FISQua, CHMEE, CHCEE, mengatakan akreditasi bukan sekadar penilaian administratif. Proses tersebut juga menjadi sarana pembinaan bagi rumah sakit untuk memastikan standar mutu dan keselamatan pasien diterapkan secara konsisten.
“Kami sebagai Surveior KARS bukan hanya bertugas melakukan penilaian, tetapi juga diharapkan dapat membantu mendampingi dan membimbing rumah sakit dalam upaya pemenuhan standar yang telah ditetapkan,” jelasnya.
Menurutnya, penerapan standar pelayanan seharusnya tidak hanya dilakukan menjelang survei akreditasi. Standar tersebut perlu menjadi bagian dari budaya kerja sehari-hari seluruh jajaran rumah sakit.
Karena itu, ia berharap survei kali ini menjadi momentum untuk memperkuat komitmen terhadap peningkatan mutu pelayanan dan keselamatan pasien secara berkelanjutan.
“Kami berharap survei akreditasi ini tidak hanya berakhir pada pelaksanaan penilaian, tetapi menjadi proses yang berkelanjutan. Momentum ini hendaknya menjadi titik awal bagi rumah sakit untuk terus meningkatkan mutu pelayanan dan mengutamakan keselamatan pasien,” ujarnya.
Direktur RSUD H. Damanhuri Barabai, dr. Nanda Sujud Andi Yudha Utama, Sp.B., mengakui proses akreditasi menjadi kesempatan bagi rumah sakit untuk mengevaluasi berbagai upaya pelayanan yang telah berjalan.
Ia berharap para surveior memberikan masukan dan arahan agar rumah sakit dapat terus berbenah, termasuk dalam menghadapi berbagai persoalan yang muncul selama memberikan pelayanan kepada masyarakat.
“Walaupun kegiatan ini merupakan proses penilaian, kami tetap berharap mendapatkan masukan dan bimbingan dari para Surveior. Bagi kami, ujian akreditasi sesungguhnya berlangsung setiap hari melalui pelayanan yang kami berikan, berbagai permasalahan yang dihadapi, serta upaya bersama untuk menemukan solusi,” katanya.
Survei berlangsung melalui sejumlah tahapan, mulai dari konfirmasi dokumen hingga penelusuran penerapan standar di lapangan. Pada 13 Oktober, kegiatan diawali dengan pembukaan dan konfirmasi dokumen yang sebelumnya telah ditelaah melalui Sistem Informasi Dokumen Akreditasi Rumah Sakit (SIDOKAR).
Sementara pada 14–15 Oktober, survei dilanjutkan dengan observasi, simulasi, dan wawancara secara langsung untuk melihat penerapan standar di lingkungan rumah sakit.
Vally menegaskan, peningkatan mutu membutuhkan keterlibatan seluruh unsur rumah sakit, mulai dari pimpinan hingga tenaga kesehatan dan pemangku kepentingan lainnya.
Menurutnya, pelayanan yang mengutamakan keselamatan pasien juga berpengaruh terhadap pengalaman pasien selama menjalani perawatan.
Melalui survei ini, RSUD H. Damanhuri Barabai diharapkan dapat mengidentifikasi kekurangan, memperbaiki sistem pelayanan, dan memperkuat budaya keselamatan pasien.
Dengan demikian, upaya peningkatan mutu tidak berhenti pada penilaian akreditasi, tetapi benar-benar dirasakan masyarakat saat mengakses layanan kesehatan. *
Follow Google News Barito Post