Rendang Yang Menjadi Kesiapsiagaan Bela Negara

by baritopost.co.id
0 comment 1 minutes read

Indonesia sebagai salah satu negara dengan demografis sedemikian rupa, membuat Indonesia menjadi negara dengan keaneka ragaman makanan yang sangat melimpah. Dikutip dari entrepeneur.bisnis.com, Indonesia memiliki lebih dari 5.300 jenis makanan asli Indonesia dimana salah satunya adalah Rendang.

Dikutip dari “Rendang: The Treasure of Minangkabau” karya Muthia Nurmufid dan kawan yang terhimpun dalam Journal of Ethnic Foods (Desember 2017), istilah “rendang” berasal dari kata “marandang” yang bermakna “secara lambat” dimana itu dapat dilihat dari proses memasak rendang yang membutuhkan waktu tertentu karena dimasak secara perlahan.

Hasil survei yang dilakukan oleh CNN pada tanggal 12 Juli 2017 menempatkan rendang sebagai makanan terenak didunia. Selain prestasi yang membanggakan tersebut, masyarakat Minang percaya rendang memiliki 3 makna tentang sikap yaitu kesabaran, kebijaksanaan, dan ketulusan hati.

Selain makna yang sudah disebutkan sebelumnya, mengutip dari buku “Randang Bundo” karya Wynda Dwi Amalia (2019), 4 bahan pokok yang digunakan dalam proses pembuatan rendang memiliki lambang tersendiri bagi masyarakat Minang.

Dagiang (daging) disimbolkan sebagai ninik mamak (para pemimpin suku adat), karambia (kelapa) disimbolkan sebagai cadiak pandai (kaum intelektual), lado (cabai) disimbolkan sebagai sosok alim ulama, dan pemasak (bumbu) disimbolkan sebagai masyarakat Minang secara keseluruhan.

Masih ingatkah dengan kehebohan munculnya rendang yang terbuat dari “daging babi” dimana hal tersebut membuat masyarakat Minang melakukan protes kepada pelaku usaha penjual rendang “daging babi” tersebut. Hal ini terjadi karena rendang mempunyai makna dan filosofi dimana salah satunya menggambarkan sosok ulama dalam menegakkan syariat Islam.

Dari kehebohan tersebut, makna, dan filosofi yang sudah saya jabarkan diatas dapat dimengerti mengapa rendang termasuk kearifan lokal bagi masyarakat Indonesia umumnya dan masyarakat Minang khususnya dapat menjadi alat dalam rangka Kesiapsiagaan Bela Negara.

Oleh: Antoni Wijaya
*)Peserta LATSAR CPNS Kemkominfo, Golongan II, Angkatan 25

You may also like

Leave a Comment