Balangan, BARITOPOST.CO.ID – PT Adaro Indonesia menjalankan konsep reklamasi pascatambang program Ecological Green Belt (EGB) atau sabuk hijau ekologis.
EGB dibangun di kawasan operasional tambang PT Adaro di Kabupaten Balangan, Kalimantan Selatan.
Strategi dilakukan untuk memulihkan fungsi lingkungan secara berkelanjutan di area bekas tambang.
Health Safety Environment Division Head PT Adaro Indonesia, Rusdi Husin, mengatakan, konsep reklamasi saat ini sudah berubah. Fokus perusahaan kini tidak lagi hanya sekadar menghijaukan lahan yang gundul.
Tujuannya agar lahan tersebut tetap memiliki nilai ekologis dan manfaat jangka panjang setelah aktivitas pertambangan berakhir.
“Kegiatan pascatambang PT Adaro Indonesia berpusat pada reklamasi lahan dan konversi lubang bekas tambang menjadi danau multifungsi untuk pemulihan ekosistem,” ujar Rusdi Husin kepada puluhan jurnalis yang mengunjungi PT Adaro Indonesia, Kamis (21/05/2026) pagi.
Rusdi memaparkan, lubang bekas galian tambang atau void kini dikelola menjadi danau buatan dengan restorasi ekologis untuk biota air.
"Danau ini bisa digunakan untuk budidaya ikan, penyediaan air, hingga area pariwisata terpadu. Adaro juga melakukan reklamasi dan revegetasi lahan dengan menjalankan penataan lahan, penebaran tanah pucuk, serta penanaman jutaan pohon,” tambahnya. Langkah ini berguna untuk menyerap karbon dan memperbaiki siklus hidrologi.
Konsep EGB ini dinilai berbeda dengan reklamasi konvensional.
Pengembangan kawasan dilakukan lewat penataan kontur lahan, pemulihan kualitas tanah, revegetasi tanaman lokal, hingga penguatan habitat flora dan fauna.
Sementara itu, Mine Closure Program Management Section Head PT Adaro Indonesia, Riza Novian menambahkan, bahwa pemilihan jenis tumbuhan tidak boleh sembarangan. Vegetasi yang dipilih harus mempertimbangkan nilai ekologis yang tinggi.
Hemat dia, tanaman harus mampu memperbaiki struktur tanah, menjaga cadangan air, mengurangi erosi, serta mendukung habitat satwa liar.
Saat ini, sejumlah area reklamasi di Balangan pun mulai menunjukkan perkembangan yang positif.
Pertumbuhan vegetasi tampak lebih stabil. Burung, serangga penyerbuk, dan tanaman alami mulai muncul kembali sebagai indikator bahwa ekosistem di kawasan tersebut sudah mulai pulih dengan baik.
Selain fokus pada lingkungan, perusahaan juga menetapkan kawasan khusus untuk perlindungan flora dan fauna. Program ini dijalankan bersamaan dengan program Corporate Social Responsibility (CSR) bagi masyarakat.
“Sabuk Hijau Ekologis yang diterapkan menjadi area penyangga lingkungan yang membantu menjaga keseimbangan ekosistem,” ungkapnya sembari menjelaskan tentang manfaat jangka panjang program tersebut.
Di wilayah pascatambang ini, Adaro juga mengembangkan budidaya madu kelulut atau lebah tanpa sengat.
Kehadiran budidaya ini menjadi koridor ekologis yang mendukung perkembangan flora dan fauna secara alami.
Land and Community Management Department Head PT Adaro Indonesia, Djoko Soesilo, menegaskan bahwa keberhasilan reklamasi tidak hanya diukur dari tampilan kawasan yang kembali hijau, tetapi juga manfaatnya bagi warga sekitar.
Selain berdiskusi dengan manajemen, rombongan jurnalis dari Banjarmasin yang datang berkunjung berkesempatan melihat langsung dan menyusuri kawasan danau buatan, penangkaran madu kelulut, dan budidaya ikan air tawar.
Pada kegiatan itu, para jurnalis juga mencicipi madu kelulut asli, hidangan ikan nila BEST (Bogor Enhanched Strain Tilapia)serta kopi hangat yang semuanya merupakan hasil budidaya dari lahan pascatambang PT Adaro Indonesia.
Penulis: Cynthia
Follow Google News Barito Post