Modus Penipuan Online Marak Jelang Lebaran 2026

by adm barito post
0 comments 2 minutes read
Teknik phising adalah usaha dari seorang peretas (attacker) untuk mendapatkan informasi rahasia dari korban seperti data pribadi, data akun, ataupun data finansial

BARITOPOST.CO.ID – Modus penipuan online jelang Lebaran yang paling umum adalah penipuan belanja online. Pelaku kejahatan siber seringkali membuat situs web palsu, akun media sosial fiktif, atau toko online bodong yang menawarkan produk dengan harga sangat murah atau diskon besar-besaran, seperti diskon 70% untuk smartphone atau pakaian Lebaran dengan harga setengah.

Baca Juga: 617 Pemudik Diberangkatkan dari Banjarbaru, Program Mudik Gratis Polri Presisi Disambut Antusias

Setelah korban tergiur dan melakukan pembayaran, barang yang dijanjikan tidak pernah dikirim atau produk yang diterima tidak sesuai dengan deskripsi.

Akun penjual palsu ini kerap langsung menghilang setelah menerima pembayaran, meninggalkan korban dengan kerugian finansial. Sebagai contoh, kasus yang pernah dilaporkan melibatkan akun Instagram yang menawarkan pakaian Hari Raya Idulfitri dengan harga, namun barang tidak kunjung diterima setelah pembayaran dilakukan. Kejadian serupa banyak terjadi, di mana janji manis diskon besar hanya menjadi umpan untuk menarik korban.

Modus penipuan online lainnya yang marak adalah phishing dan smishing melalui tautan palsu. Penipu akan mengirimkan email atau pesan teks yang menyerupai komunikasi resmi dari institusi atau bank, dengan tujuan memancing korban untuk mengklik tautan berbahaya. Tautan palsu ini dirancang secara cermat untuk mencuri data sensitif seperti username, password, dan kode OTP (One-Time Password) korban, yang kemudian dapat digunakan untuk mengakses akun finansial atau pribadi.

Baca Juga: 617 Pemudik Diberangkatkan dari Banjarbaru, Program Mudik Gratis Polri Presisi Disambut Antusias

Pelaku dapat menyamar sebagai instansi logistik yang mengirimkan notifikasi paket, menawarkan promo Ramadan palsu, atau bahkan menjanjikan “THR Gratis dari Pemerintah” dan “Promo Diskon Lebaran 90%”. Pesan-pesan ini seringkali dibuat sangat meyakinkan untuk menekan psikologis korban agar segera bertindak tanpa berpikir panjang. Penting bagi masyarakat untuk selalu memverifikasi pengirim dan isi pesan sebelum mengklik tautan apa pun.

Teknologi Fake BTS juga digunakan untuk mengirim pesan massal yang seolah-olah berasal dari institusi resmi atau bank, membuat pesan palsu muncul di utas percakapan yang sama dengan pesan asli sehingga sulit dibedakan.

Baca Juga: 617 Pemudik Diberangkatkan dari Banjarbaru, Program Mudik Gratis Polri Presisi Disambut Antusias

OJK menyoroti manipulasi hasil pencarian di internet, di mana situs palsu bisa muncul di urutan teratas hasil pencarian dan tampilannya sangat mirip dengan situs resmi, terkadang hanya berbeda satu huruf, sehingga masyarakat perlu ekstra hati-hati dan teliti dalam setiap interaksi digital.

Baca Artikel Lainnya

Tinggalkan komentar