Karhutla Kotim Tewaskan 26 Ekor Satwa Liar, Dari Ular Sanca hingga King Cobra Ditemukan Tewas Terpanggang

by baritopost.co.id
0 comments 2 minutes read
SATWA JADI KORBAN – Sejumlah ular ditemukan mati terpanggang akibat kebakaran lahan di Kabupaten Kotawaringin Timur. (foto:istimewa/tangkapan layar Instagram

Sampit, BARITOPOST.CO.ID Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, tidak hanya menghanguskan vegetasi dan mengancam masyarakat. Satwa liar yang berada di kawasan terbakar juga ikut menjadi korban.

Dilansir dari Radar Sampit yang merupakan bagian dari Jawa Pos, Rabu (26/8/2026), sedikitnya 26 ekor satwa liar ditemukan mati di sejumlah lokasi terdampak karhutla selama dua pekan terakhir.

Temuan tersebut berasal dari pecinta reptil di Sampit, Haryy Siswanto, yang mengumpulkan bangkai satwa liar dari kawasan yang terbakar.

Bangkai yang ditemukan dalam kondisi mengenaskan. Sebagian besar tubuh satwa hangus setelah tidak sempat menyelamatkan diri dari kobaran api.

Haryy mencatat terdapat 20 ekor ular sanca batik (Malayopython reticulatus), satu ekor king cobra, tiga ekor ular dipong, satu ekor biawak dan satu ekor ular air.

“Total yang kami temukan selama dua pekan ini ada 20 jenis sanca reticulatus, satu ekor king cobra, tiga ekor dipong, satu ekor biawak dan satu ekor ular air. Semuanya sudah dalam kondisi mati,” kata Haryy.

Temuan tersebut membuat Haryy prihatin. Menurutnya, karhutla tidak hanya berdampak terhadap manusia, tetapi juga memusnahkan habitat dan kehidupan satwa liar.

“Saya merasa sedih dengan maraknya kebakaran hutan dan lahan ini. Satwa liar juga menjadi korban. Harapannya, satwa liar yang menjadi korban tidak terus bertambah,” ujarnya.

Ia menilai keberadaan satwa liar memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Kerusakan habitat akibat kebakaran dikhawatirkan memberikan dampak lebih luas terhadap rantai kehidupan di alam.

“Bagaimanapun, satwa liar ini merupakan penyeimbang ekosistem,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala BKSDA Resort Sampit Muriansyah mengaku heran setelah menemukan bangkai biawak di kawasan terdampak kebakaran.

Pasalnya, biawak dikenal sebagai satwa yang cukup cepat bergerak untuk menyelamatkan diri ketika menghadapi ancaman.

“Bisa-bisanya biawak terbakar jua. Padahal satwa ini terkenal cepat menyelamatkan diri,” kata Muriansyah.

Ia menduga biawak tersebut tidak memiliki kesempatan untuk melarikan diri karena terjebak di tengah kobaran api.

“Mungkin terkurung atau terjebak, jadi tidak ada celah lagi untuk menyelamatkan diri,” ujarnya.

Kematian puluhan satwa tersebut menjadi gambaran lain dari dampak karhutla yang terjadi di Kotim. Ketika habitat terbakar, satwa yang tidak sempat menghindar bukan hanya kehilangan tempat berlindung dan sumber makanan, tetapi juga dapat kehilangan nyawa.

Sementara satwa yang berhasil menyelamatkan diri berpotensi berpindah ke kawasan lain, termasuk mendekati permukiman warga untuk mencari makanan dan tempat berlindung.

Karena itu, pencegahan karhutla dinilai penting bukan hanya untuk melindungi masyarakat dan lingkungan, tetapi juga menjaga keberlangsungan satwa liar serta keseimbangan ekosistem.

Follow Google News Barito Post

Baca Artikel Lainnya

Tinggalkan komentar