Banjarmasin, BARITOPOST.CO.ID – Turnamen Gateball Wali Kota Cup Banjarmasin sudah digelar Sejak 12 hingga 14 Juni 2026 di Lapangan PJN 1 Banjarmasin.
Puluhan peserta turun bermain dengan penuh semangat kompetisi dan antusiasme. Turnamen yang mempertandingkan dua nomor, double bebas dan triple campuran, diikuti 11 regu di kategori double dan 7 regu di kategori triple.Seluruh peserta adalah atlet atau pegiat gateball yang berdomisili atau bekerja di Kota Banjarmasin.
"Walikota Cup ini digelar dengan tujuan utama mencari dan mengembangkan talenta-talenta terbaik Banjarmasin untuk bisa tampil di ajang yang lebih tinggi," Ketua Pergatsi Kota Banjarmasin, Hamsi Mansyur.
Namun di balik antusiasme tersebut, ada keinginan yang sudah lama tersimpan. Lapangan yang digunakan saat ini adalah milik PJN, bukan milik Pergatsi, bukan milik pemerintah kota yang dikhususkan untuk gateball. Setiap kali ingin berlatih, para atlet harus terlebih dahulu meminjam. Dan ketika lapangan tidak tersedia, mereka terpaksa berlatih di area terbuka yang terpapar panas terik sepanjang hari.
"Kendala kami adalah lapangan ini punya PJN. Gateball belum memiliki lapangan sendiri. Kami berharap Pak Wali Kota bisa menyiapkan lapangan agar kawan-kawan kalau latihan mudah. Kalau ini harus pinjam dulu. Dulu kita pinjam di ULM, ada yang open space. Bayangkan jam 9 itu sudah panas, paling lama sejam sudah kepanasan," beber Hamsi.
Ia menegaskan bahwa minat masyarakat terhadap gateball sebenarnya cukup tinggi. Tapi tanpa fasilitas yang memadai, potensi itu sulit berkembang maksimal.
"Ingin mengikuti olahraga ini sebenarnya cukup banyak. Tapi kalau lapangannya tidak seperti ini, bepanas terus. Kalau pemerintah ingin gateball ini terus berkembang, disiapakan lapangannya seperti ini supaya tidak ada kepanasan," ucapnya.
Hamsi juga mengingatkan bahwa gateball sejatinya adalah olahraga yang inklusif dan sangat cocok untuk berbagai kalangan, termasuk lansia. Di Jepang dan Korea, gateball justru menjadi olahraga paling populer di kalangan warga berusia 60 tahun ke atas.
"Gateball itu betul-betul menggunakan akal pikiran. Bagaimana saya bisa memasukkan bola ke gawang. Gerakannya tidak terlalu keras tapi tetap berolahraga. Kayak di Jepang, orang tua yang main. Di Korea, usia 60 ke atas yang bermain. Mereka olahraganya tidak membawa gerakan keras tapi benar-benar melatih pikiran," ucapnya.
Sekretaris Umum Pergatsi Provinsi Kalsel, Mutaal Badrun, yang turut menyaksikan jalannya turnamen, menyambut positif penyelenggaraan Walikota Cup ini. Baginya, turnamen seperti ini bukan sekadar kompetisi, melainkan juga kesempatan untuk mengamati dan mengevaluasi kualitas pemain secara langsung.
"Kami sangat bersyukur dan berterima kasih dengan adanya acara Piala Walikota Cup. Ini kami sambut baik karena kami bisa mengevaluasi. Mudah-mudahan yang menonton pun teredukasi untuk ikut bermain. Selain itu, kami juga bisa melihat bibit-bibit yang nantinya bisa kami pantau perkembangannya," ujar Mutaal.
Ia menjelaskan bahwa penilaian atlet untuk keperluan seleksi termasuk persiapan Pra-PON tidak semata-mata dari satu turnamen. Pergatsi Kalsel selalu memantau performa atlet dari berbagai ajang sebelum memutuskan siapa yang layak mewakili provinsi.
"Kami melihat permainan mereka dari beberapa turnamen. Tidak mesti yang juara otomatis yang mewakili menuju Pra-PON," jelasnya.
Penulis: TOlah
Follow Google News Barito Post