Cegah Terpapar Omicron, Lindungi Diri dengan Vaksin dan Prokes

ORGANISASI Kesehatan Dunia (WHO) menyebut varian Omicron B.1.1.529 telah terdeteksi di 38 negara.(foto: bbc magazine)

Banjarmasin, BARITO – Meskipun beberapa ahli menyebut gejala yang diakibatkan infeksi Omicron cukup ringan, masyarakat tetap harus berhati-hati karena penyebaran varian baru virus Corona ini sangat cepat. Selain itu, Omicron tetap berisiko menyebabkan gejala yang parah, bahkan bukan tidak mungkin menyebabkan kematian untuk kelompok orang yang rentan.

‘’Vaksinasi dan tetap disiplin dalam menjalankan protokol kesehatan sangat dibutuhkan untuk mencegah terpapar Covid-19 varian baru yakni Omicron,” kata pengamat dari Universitas Islam Kalimantan (Uniska) Muhammad Arsyad Albanjari, Dr Jarkawi, ketika berbincang dengan Barito Post, kemarin.

Sebagaimana diketahui, kecepatan penularan Omicron lebih dari 500% atau 5 kali lipat dibandingkan dengan virus Corona SARS-CoV-2 aslinya yang pertama kali ditemukan di Wuhan, Cina, 2019 lalu.

Karena itu, menurut Jarkawi, pembentukan kekebalan kelompok sangat diperlukan agar masyarakat memiliki daya tahan yang lebih baik dari keterpaparan varian Corona baru.

‘’Pembentukan kekebalan yang kita ikhtiarkan saat ini adalah melalui vaksinasi. Karena itu, semua komponen masyarakat, harus beredia divaksin untuk mencegah terpapar Covid-19 varian baru ini,’ katanya.

Selain itu, imbuh Jarkawi, lindungi diri dengan tetap konsisten menjalankan protokol kesehatan, seperti memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, dan menghindari kerumunan.

Sebagaimana dikutip tempo.co dari New York Times, varian Omicron memiliki potensi besar untuk bermutasi.

“Ini mungkin virus paling bermutasi yang pernah kami lihat,” ujar Alex Sigal, pemimpin tim peneliti yang bekerja untuk mempelajari lebih lanjut tentang Omicron, Ahad, 5 Desember 2021.

Hal senada juga disampaikan oleh ahli virologi di University of Warwick, Inggris, Lawrence Young, yang menggambarkan Omicron sebagai variani virus yang paling banyak bermutasi yang pernah dilihat. “Termasuk perubahan yang berpotensi mengkhawatirkan yang belum pernah terjadi sebelumnya pada virus yang sama,” kata Young.

Namun, ahli biologi evolusi di Seattle, Amerika, Jesse Bloom, menyebut, lebih banyak mutasi tidak serta merta membuat virus lebih berbahaya. “Pada prinsipnya, mutasi juga dapat bekerja melawan satu sama lain,” tutur Bloom kepada New York Times.dya

Penulis: Dadang Yulistya

Related posts

Aspirasi BEM se-Kalsel Tolak Pilkada Lewat DPRD Telah Disampaikan ke Pusat

PAD Kalsel Minus Rp2 Triliun, Optimalisasi Pajak dan Retribusi Harus Dilakukan

Pembinaan dan Peningkatan Prestasi Atlet Cabor Kalsel Harus Terus Diupayakan