Banjarmasin, BARITOPOST.CO.ID – Sejumlah proyek pembangunan yang dikerjakan Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS) pada Tahun Anggaran 2024 menjadi sorotan setelah hasil pemeriksaan menemukan indikasi kerugian negara bernilai miliaran rupiah.
Dari total 50 paket pekerjaan dengan nilai kontrak mencapai Rp209,46 miliar, ditemukan berbagai ketidaksesuaian pelaksanaan pekerjaan yang berpotensi menimbulkan kerugian keuangan daerah sebesar Rp3.392.551.842.
Temuan tersebut berasal dari kekurangan volume pekerjaan pada sejumlah proyek yang tersebar di berbagai sektor pembangunan.
Pada kelompok pekerjaan gedung dan bangunan, pemeriksaan terhadap 21 paket proyek senilai Rp145,72 miliar menemukan kekurangan volume dengan nilai mencapai Rp2.059.454.691.
Sementara itu, pada 29 paket pekerjaan jalan, irigasi, dan jaringan dengan total kontrak Rp63,73 miliar, ditemukan kekurangan volume pekerjaan senilai Rp1.658.068.801.
Berdasarkan data hasil pemeriksaan, sebagian temuan telah ditindaklanjuti melalui pengembalian ke Kas Daerah sebesar Rp1.333.097.789. Meski demikian, masih terdapat nilai temuan yang belum diselesaikan sebesar Rp2.059.454.053.
Kepala Dinas PUTR Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Hj. Rahmawaty, ST., MT., membenarkan adanya rekomendasi hasil pemeriksaan terkait kekurangan volume pekerjaan pada sejumlah proyek yang dilaksanakan sepanjang tahun 2024.
Dalam keterangan tertulisnya kepada awak media, Rahmawaty menyatakan bahwa pihaknya telah melakukan tindak lanjut atas rekomendasi tersebut sesuai ketentuan yang berlaku.
“Memang terdapat rekomendasi terkait kekurangan volume pekerjaan pada beberapa paket kegiatan tahun 2024 berdasarkan hasil pemeriksaan. Dinas PUTR Kabupaten Hulu Sungai Selatan telah menindaklanjuti temuan tersebut sesuai ketentuan yang berlaku,” ujarnya.
Namun demikian, saat dimintai penjelasan mengenai status sisa temuan yang nilainya masih mencapai lebih dari Rp2 miliar, Rahmawaty tidak memberikan rincian lebih lanjut. Ia hanya menyebut data yang digunakan sebagai dasar pertanyaan merupakan data lama yang dinilai tidak lagi menggambarkan kondisi terkini.
“Data tersebut sudah lama dan tidak relevan dengan kondisi saat ini,” katanya singkat.
Kondisi ini menimbulkan pertanyaan mengenai progres penyelesaian temuan bernilai miliaran rupiah tersebut, mengingat sebagian besar kerugian yang teridentifikasi dalam hasil pemeriksaan masih belum diketahui status penyelesaiannya secara rinci.
Penulis: Filarianti
Editor: Mercurius
Follow Google News Barito Post