Banjarmasin, BARITOPOST.CO.ID – Doktor Ilmu Ekonomi Yohanis Hans Kwee menyebutkan, pasar keuangan global sepanjang tahun ini diperkirakan digerakkan tiga tema utama, yakni perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), memanasnya tensi geopolitik, serta risiko inflasi yang masih membayangi.
Baca Juga: Anang Syakhfiani dan Ainuddin Bacakan Pledoi Minta Dibebaskan
Menurutnya, ke depan pelaku pasar mencermati rilis sejumlah data ekonomi Amerika Serikat, antara lain inflasi konsumen dan produsen serta penjualan ritel, yang berpotensi mempengaruhi arah pergerakan pasar global dan domestik.
Ia pun menilai investor cenderung mengalihkan dana ke saham-saham kecerdasan buatan (AI) yang telah terbukti mampu memonetisasi potensinya, sembari melepas saham-saham yang dinilai kurang kompetitif.
“Tampaknya, investor mulai rasional dan memilih saham yang sudah dapat monetisasi potensinya,” ujar pengamat pasar modal sekaligus Co-Founder Pasardana, yang memastikan rotasi sektor mulai terlihat di bursa Amerika Serikat (AS) dalam Edukasi Wartawan oleh PT Bursa Efek Indonesia (BEI) ‘Arah IHSG di Tengah Tensi Geopolotik dan Potensi Bubble AI’, Jumat (23/1/2026) via Zoom Virtual.
Baca Juga: Anang Syakhfiani dan Ainuddin Bacakan Pledoi Minta Dibebaskan
Dari sisi kebijakan moneter, data nonfarm payrolls Amerika Serikat yang lebih rendah dari perkiraan sempat memberi sinyal perlambatan.
Namun, penurunan tingkat pengangguran menjaga ekspektasi pemangkasan suku bunga The Federal Reserve tetap berada di kisaran dua kali sepanjang 2026.
Meski demikian, pada Januari ini bank sentral AS diperkirakan masih akan mempertahankan suku bunganya. “Kita juga mencermati bahwa ketegangan geopolitik global masih menjadi faktor risiko membayangi pasar,” imbuhnya.