Puasa Bantu Redakan Kecemasan dan Latih Kontrol Diri

by adm barito post
0 comments 2 minutes read
Banyak Berdoa di Momen Puasa

Jakarta, BARITOPOST.CO.ID – Puasa tidak hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menjadi sarana melatih delay of gratification atau kemampuan menunda dorongan. Saat menahan lapar, haus, dan impuls emosional seperti marah atau reaktif, seseorang sedang melatih fungsi eksekutif otak, khususnya area prefrontal cortex yang berperan dalam kontrol diri.

Baca Juga: Menu MBG Disajikan Tahan Lama Selama Ramadan

Psikolog Klinis lulusan Magister Universitas Islam Indonesia (UII), Alifa Fadia Ainaya, menjelaskan bahwa secara psikologis puasa memperkuat jalur regulasi antara dorongan dan pengambilan keputusan. Dengan demikian, individu tidak langsung bereaksi, melainkan belajar memberi jeda sebelum merespons.

“Mekanismenya bekerja melalui proses pembiasaan. Setiap kali seseorang berhasil menahan respons otomatis, terbentuk pengalaman keberhasilan kecil yang meningkatkan self-efficacy,” ujarnya seperti dilansir nu.or.id.

Baca Juga

Baca Juga: Menu MBG Disajikan Tahan Lama Selama Ramadan

Menurutnya, pengalaman tersebut memperkuat keyakinan bahwa individu mampu mengelola emosi, bukan dikuasai emosi. Puasa juga meningkatkan self-awareness karena seseorang lebih peka terhadap kondisi internal seperti lapar, lelah, sensitif, atau justru lebih tenang. Kesadaran terhadap sensasi tubuh (interoceptive awareness) membantu mengenali pola emosi dan pikiran.

Selain itu, puasa mendorong suasana reflektif dan evaluasi diri, atau metacognition, yakni kemampuan mengamati pikiran sendiri. Dalam praktik klinis, peningkatan kesadaran diri menjadi kunci perubahan perilaku. Puasa juga melatih regulasi stres dengan membiasakan diri menghadapi ketidaknyamanan secara terkendali. “Individu belajar bahwa ketidaknyamanan bisa ditoleransi,” jelasnya.

Dari sisi spiritual, puasa dan aktivitas keagamaan seperti shalat, zikir, serta refleksi diri berkontribusi pada penurunan kecemasan. Spiritualitas menghadirkan makna dan rasa keterhubungan, sehingga menurunkan persepsi ancaman dan membantu menenangkan sistem saraf.

Baca Juga

Baca Juga: Menu MBG Disajikan Tahan Lama Selama Ramadan

Naya menambahkan, selama puasa terjadi perubahan hormon seperti kortisol, insulin, serta regulasi neurotransmiter serotonin dan dopamin. Pola makan yang terjaga membantu menjaga stabilitas gula darah dan suasana hati. Sejumlah penelitian juga menunjukkan peningkatan brain-derived neurotrophic factor (BDNF) dalam kondisi puasa tertentu, meski respons biologis bersifat individual.

Ia menegaskan, puasa akan berdampak positif bagi kesehatan mental jika dijalani dengan kesadaran, didukung tidur cukup dan nutrisi seimbang. “Puasa bukan ajang menekan emosi, tetapi kesempatan melatih regulasi yang lebih adaptif,” tutupnya.

Namun, jika selama puasa seseorang mengalami serangan panik atau kecemasan berat, ia menyarankan memastikan keamanan fisik dan melakukan teknik grounding atau pernapasan diafragma untuk menenangkan sistem saraf secara bertahap.

Baca Juga

Baca Artikel Lainnya

Tinggalkan komentar