Pelukan Negara untuk Adel dan Jailani, Dua Anak Yatim Piatu Korban Tragedi yang Kini Menatap Masa Depan

by baritopost.co.id
0 comments 4 minutes read
Kapolda Kalsel Irjen Pol Rosyanto Yudha Hermawan saat menjenguk Adel dan Jailani di RS Bhayangkara Banjarmasin. (Foto: Iman Satria)

Banjarmasin, BARITOPOST.CO.ID – Cerita pilu menyelimuti kehidupan Felina Delfi (11) atau yang akrab disapa Adel, dan adiknya Jailani (5), dua anak yatim piatu asal Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar.

Sejak kecelakaan maut yang merenggut nyawa kedua orang tua mereka tiga tahun silam di Kapuas, Kalimantan Tengah, hidup Adel dan Jailani berubah drastis.

Tak hanya kehilangan ayah dan ibu, keduanya juga harus menanggung luka fisik dan trauma mendalam.

Adel kini mengalami keterbatasan fungsi pada tangan kanannya akibat cedera saraf, bahkan untuk sekadar menulis ia kesulitan.

Sementara Jailani mengalami luka pada kaki kiri yang meninggalkan bekas dan memerlukan tindakan operasi.

Nasib kedua anak tersebut terungkap saat Kapolda Kalimantan Selatan Irjen Pol Rosyanto Yudha Hermawan melakukan pemantauan banjir pada Sabtu, 17 Januari 2026.

Tergerak oleh kondisi Adel dan Jailani, Kapolda langsung membujuk pihak keluarga agar keduanya mendapatkan penanganan medis yang layak.

“Tindakan medis ini kita lakukan demi masa depan mereka. Jailani dijadwalkan menjalani operasi kaki pada Rabu mendatang oleh tim dokter spesialis bedah, dr. Indro Sp.B,” ujar Kapolda saat menjenguk Adel dan Jailani di RS Bhayangkara Banjarmasin, Senin (19/1/2026).

Untuk Adel, penanganan dilakukan secara lebih mendalam.

Tim medis yang dipimpin dr. Aditya, Sp.OT, tengah melakukan pengkajian menyeluruh terhadap cedera saraf pada tangan kanannya.

Tindakan medis akan dilakukan secara bertahap sesuai hasil pemeriksaan.
“Operasi direncanakan di RS Bhayangkara.

Namun jika diperlukan penanganan lanjutan, tidak menutup kemungkinan keduanya akan dirujuk ke Rumah Sakit Polri Kramat Jati, Jakarta,” jelas Kapolda.

Ia menegaskan, pengobatan akan diberikan hingga kondisi Adel dan Jailani membaik.
“Pengobatan akan kita lakukan sampai nanti mereka kembali normal. Ini untuk masa depan mereka,” tegasnya.

Kapolda mengungkapkan, pada awalnya pihak keluarga sempat keberatan dengan rencana operasi.

Namun setelah dilakukan pendampingan dan pendekatan secara intens, keluarga akhirnya menyetujui tindakan medis tersebut.
“Sekarang anak-anak ini kita rawat untuk persiapan operasi,” ucapnya.

Tak berhenti di situ, Kapolda juga membuka peluang adanya bantuan lanjutan bagi Adel dan Jailani.

Ia menyebutkan rencana tersebut akan dibahas bersama para Pejabat Utama (PJU) Polda Kalsel.
“Nanti akan kita diskusikan dengan PJU. Konsepnya seperti apa, dalam satu dua hari ini akan kita rapatkan. Semoga cita-cita Adel menjadi guru bisa terwujud,” pungkasnya.

Selain penanganan medis, aspek psikologis juga menjadi perhatian serius. Mengingat Adel dan Jailani mengalami trauma mendalam akibat kecelakaan, Bhayangkari Daerah Kalsel memprioritaskan program trauma healing sebelum tindakan medis dilakukan.

“Kami akan melakukan trauma healing. Sejauh mana dan sedalam apa trauma yang dialami anak-anak ini akibat kecelakaan tersebut. Semoga Ananda Adel dan Ananda Jailani segera diberikan kesembuhan dan pemulihan,” ujar Ketua Bhayangkari Daerah Kalsel, Yennie Rosyanto Yudha Hermawan.

Sementara itu, Kabid Dokkes Polda Kalsel Kombes Pol dr. Muhammad El Yandiko menjelaskan bahwa kondisi Adel masih memerlukan pemeriksaan lanjutan sebelum ditentukan tindakan medis selanjutnya.

“Tim dokter belum dapat memastikan secara pasti sumber gangguan yang dialami Adel, apakah disebabkan oleh saraf pusat yang terjepit atau faktor medis lainnya,” jelasnya.

Karena itu, pihaknya belum bisa memastikan lokasi tindakan medis lanjutan bagi Adel, apakah cukup di RS Bhayangkara atau perlu dirujuk ke rumah sakit lain, termasuk RS Polri Kramat Jati.

Sedangkan untuk Jailani, keputusan medis telah ditetapkan. Operasi dijadwalkan berlangsung pada Rabu, 21 Januari 2026, dengan prognosis yang dinilai baik.
“Insya Allah prognosisnya bagus. Kita doakan semoga operasi berjalan lancar dan hasilnya juga baik,” imbuhnya.

Mewakili keluarga, Anisa Marita mengisahkan peristiwa tragis yang terjadi pada 2022 silam di wilayah Kapuas, Kalimantan Tengah.

Saat itu, Adel, Jailani, dan kedua orang tua mereka berboncengan satu sepeda motor.
“Di depan Adel, lalu ayahnya, di tengah Jailani, dan paling belakang ibunya,” kenang sang nenek dengan suara lirih.
Kecelakaan terjadi ketika motor melintasi jalan aspal rusak.

Sebuah truk yang hendak menyalip menyerempet motor mereka dari arah belakang samping.

Benturan keras membuat sang ayah, Muhammad Haris, meninggal dunia beberapa menit setelah tiba di puskesmas.

Sang ibu, Husnul Khatimah, menyusul tak lama kemudian akibat pendarahan hebat.

Adel dan Jailani selamat, namun harus menanggung luka fisik dan trauma yang membekas hingga kini.

Selama lebih dari setahun, keluarga memilih menyembunyikan kenyataan pahit tentang kepergian kedua orang tua mereka demi menjaga kondisi mental Adel dan Jailani.

“Lama-lama dia bertanya, ‘di mana bapakku, mamaku kok belum pulang?’ Kita jawab saja masih kerja,” tutur sang nenek.

Selain luka fisik, Jailani juga mengalami trauma berat terhadap lingkungan rumah sakit.
“Kalau lihat dokter saja dia bisa ngamuk dan menangis histeris,” tambahnya.

Bagi sang nenek, bantuan yang diberikan bukan sekadar pengobatan gratis, melainkan secercah harapan bagi masa depan cucu-cucunya.
“Ulun tidak menghayal 100 persen.

Setidaknya Adel bisa menggaruk, mengikat rambut, pakai kerudung sendiri. Mudah-mudahan dikabulkan,” tutupnya penuh harap.

Penulis: Iman Satria
Editor: Mercurius

Follow Google News Barito Post dan Ikuti Beritanya

Baca Artikel Lainnya

Tinggalkan komentar