“Nyawa Lebih Berharga dari Foto”, Iman Satria Ingatkan Mahasiswa soal Risiko Memotret Demo

by baritopost.co.id
0 comments 2 minutes read
Fotografer jurnalis nasional asal Banjarmasin, Iman Satria saat jadi Nara sumber pada ada diskusi Mahasiswa Memotret Aksi Mahasiswa” yang digelar di Social Science Laboratory, FKIP Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Selasa (3/2/2026 ) )Foto Istimewa/

Banjarmasin, BARITOPOST.CO.ID – Fotografer jurnalis nasional asal Banjarmasin, Iman Satria, menekankan pentingnya mengutamakan keselamatan diri saat mengabadikan momen demonstrasi.

Hal tersebut disampaikannya dalam diskusi bertajuk “Mahasiswa Memotret Aksi Mahasiswa” yang digelar di Social Science Laboratory, FKIP Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Selasa (3/2/2026).

Di hadapan mahasiswa Jurusan Pendidikan Sosiologi, Iman yang juga peraih sejumlah penghargaan fotografi nasional ini memberikan peringatan keras terkait tingginya risiko di lapangan.
“Sebagus apa pun hasil foto yang kita dapatkan, tidak akan pernah lebih berharga dari selembar nyawa kita,” tegas fotografer media cetak dan online Barito Post ini .

Berdasarkan pengalamannya meliput berbagai aksi massa, Iman menjelaskan bahwa identitas dan posisi fotografer sangat krusial.

Ia menyarankan agar fotografer selalu mengenakan kartu pengenal (ID Card) serta memperkenalkan diri kepada pihak keamanan maupun massa aksi sejak awal.
“Penting bagi aparat dan mahasiswa mengetahui siapa kita dan apa tugas kita di sana. Jangan sampai kehadiran fotografer dianggap asing atau mencurigakan,” jelasnya.

Selain identitas, Iman juga memaparkan teknik menentukan posisi aman saat meliput, baik di barisan belakang aparat maupun di belakang massa mahasiswa.

Melalui presentasi puluhan karya fotonya, ia menunjukkan bahwa pengambilan gambar dari sudut pandang tertentu tidak hanya menghasilkan visual yang lebih kuat, tetapi juga meminimalkan risiko.

Ia mengingatkan bahwa situasi lapangan bisa berubah dengan cepat, dari kondusif menjadi ricuh. Karena itu, mahasiswa disarankan tidak bekerja sendirian saat meliput aksi demonstrasi.
“Fotografer sejatinya tidak pernah benar-benar sendirian. Minimal harus ada dua orang yang saling berdekatan agar bisa saling mengingatkan dan melindungi,” tambahnya.

Kegiatan ini diinisiasi oleh Learning and Action Integration Laboratory dan turut dihadiri Kepala Laboratorium, Nasrullah.

Doktor Antropologi lulusan UGM tersebut menilai dokumentasi aksi massa memiliki nilai historis penting sebagai arsip perjuangan aspirasi mahasiswa.

Sementara itu, Ketua Jurusan Pendidikan Sosiologi, Rochgiyanti, yang membuka acara secara resmi, menyampaikan dukungannya terhadap kegiatan literasi visual. Ia berharap diskusi serupa dapat terus digelar secara rutin sebagai bekal mahasiswa dalam menghadapi dunia jurnalistik dan advokasi sosial.

Penulis/ Editor : Mercurius

Follow Google News Barito Post dan Ikuti Beritanya

Baca Artikel Lainnya

Tinggalkan komentar