Banjarmasin, BARITOPOST.CO.ID – Upaya pelestarian pangan lokal terus dilakukan Amartha Financial (Amartha) dengan melibatkan langsung perempuan pelaku usaha mikro. Melalui kompetisi memasak kuliner khas daerah, Amartha mengajak ibu-ibu UMKM di Kalimantan untuk menjaga warisan rasa sekaligus memperkuat kemandirian ekonomi keluarga.
Kompetisi bertajuk “Cerita Rasa” ini menjadi program perdana Amartha di bidang kuliner. Lebih dari 1.000 ibu mitra UMKM binaan turut ambil bagian, menghadirkan 81 sajian yang tidak hanya menonjolkan cita rasa, tetapi juga kisah kehidupan yang tumbuh dari dapur rumah tangga.
Pada tahap awal, peserta yang telah diseleksi dibagi ke dalam beberapa kelompok untuk bertanding di tingkat regional. Proses penilaian dilakukan dengan mempertimbangkan teknik memasak, kreativitas olahan, serta pemahaman terhadap pemanfaatan bahan pangan lokal. Para pemenang regional selanjutnya akan melaju ke kompetisi nasional yang akan digelar di Jakarta.
Mengangkat kekayaan pangan Kalimantan, kompetisi ini menampilkan ragam kuliner yang lahir dari kedekatan masyarakat dengan alam. Hasil hutan, sayuran musiman, hingga rempah-rempah lokal menjadi bahan utama yang diolah menjadi masakan sehari-hari, mencerminkan pola konsumsi yang berkelanjutan dan selaras dengan lingkungan.
Chief Funding Officer Amartha, Julie Fauzie, menuturkan bahwa dapur rumah tangga memiliki peran penting dalam menjaga tradisi pangan.
“Pangan lokal adalah bagian dari kehidupan sehari-hari. Dari tangan para ibu, tradisi dan nilai keluarga diwariskan. Melalui Cerita Rasa, kami ingin pangan lokal tetap hidup dan memberi manfaat, tidak hanya secara budaya tetapi juga sebagai sumber penghidupan,” ujarnya, Minggu (11/1/2026).
Di wilayah Kalimantan, ajang ini mempertemukan lima kelompok ibu mitra UMKM dari Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur. Hasil seleksi menetapkan kelompok ibu dari Banjarmasin Barat, Tengah, dan Selatan sebagai juara regional.
Kelompok tersebut dinilai unggul lewat sajian khas Kalimantan seperti ketupat kandangan, ikan patin beetup, tumis pakis pedas, iwak haruan, serta oseng rimis.
Setiap hidangan dinilai kuat merepresentasikan kekayaan pangan lokal beserta cerita budaya yang menyertainya. Masakan yang disajikan lahir dari bahan sederhana yang mudah ditemukan di sekitar rumah. Di balik rasa yang kuat, tersimpan kisah tentang masa kecil, perjuangan hidup, serta kebersamaan keluarga. Perpaduan antara cita rasa dan cerita itulah yang mengantarkan mereka melaju ke babak final di Jakarta sebagai wakil Kalimantan.
Salah satu peserta, Khairiyani dari Banjarmasin Tengah, menyampaikan bahwa kuliner lokal sangat lekat dengan kehidupan para ibu.
“Kami memasak dengan bahan yang tersedia dari alam sekitar dan menjaga cita rasa agar tetap diwariskan. Lewat kegiatan ini, kami berharap tradisi tetap hidup dan sekaligus membuka peluang kesejahteraan bagi keluarga,” ungkapnya.
Babak puncak kompetisi akan berlangsung di Jakarta bertepatan dengan peluncuran produk Amartha Prosper. Para finalis akan berkompetisi di hadapan dewan juri dan calon investor, sekaligus memperlihatkan keterkaitan antara kuliner lokal, pemberdayaan perempuan, dan investasi berkelanjutan.
Melalui program ini, Amartha menegaskan bahwa UMKM memiliki peran strategis dalam menjaga keberlanjutan budaya kuliner daerah. Namun untuk berkembang, UMKM juga membutuhkan akses keuangan yang inklusif. Karena itu, Amartha menghadirkan berbagai layanan seperti investasi mikro, layanan warung digital AmarthaLink, hingga platform Amartha Prosper guna membantu pelaku UMKM memperoleh permodalan usaha.
“Dari dapur sederhana para ibu, kami ingin membuka akses keuangan agar pangan lokal tidak hanya hadir sebagai tradisi, tetapi juga menjadi sumber penghidupan. Dari rasa rumahan, kami berharap masa depan pangan Indonesia dapat terus terjaga,” pungkas Julie.
Sepanjang tahun 2025, Amartha tercatat telah menyalurkan lebih dari Rp35 triliun modal usaha kepada sekitar 3,3 juta UMKM perempuan di Indonesia. Penyaluran ini menjadi bagian dari upaya memperkuat ekonomi mikro, menciptakan lapangan kerja, dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif.
Penulis : Filarianti
Editor : Mercurius
Follow Google News Barito Post dan Ikuti Beritanya