oleh

Tukang Sol Sepatu Ikut Terdampak Sejak Pandemi Covid-19

Banjarmasin, BARITO – Menjadi tukang Sol Sepatu- Sendal bagi Hairi (42) dilakoninya karena lebih santai jadi bos sendiri, minggu (13/12/2020) pagi. Meski ikut menumpang di halaman tetangganya tepi Jalan Veteran Km 5,5 sejak pandemi Covid-19 tetap dijalaninya meski wabah sudah reda.

Soalnya ayah dua anak ini baru saja kena gusur rumahnya di tepi Jembatan Sungai Gardu setempat. Hingga ia kehilangan tempat kerja Sol sepatu, apalagi ketika terjadi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan (PSBK) pelanggannya berkurang sejak pertengahan Mei lalu.

Hairi terpaksa menyewa rumah di Jalan Sungai Lulut Komplek Pesona MJ 2 RT 16 atau Desa Kayu Kacang Kecamatan Sungai Tabuk Kabupaten Banjar. Dengan tetap menggunakan masker untuk memutus mata rantai saat bekerja. Sementara ia juga mencuci tangan pakai sabun dengan air mengalir, numpang di warung Teh Julak.

Lantaran terkait tempat, dia kembali ke Sungai Gardu RT 01 karena orang sudah tahu ada Sol Sepatu di kawasan itu. Padahal sebelumnya Hairi dulunya mantan sopir bus dan tambal ban ini lebih besar penghasilannya dari pada sol sepatu. Dia juga khawatir kalau berkerumunan dal bekerja, makanya lebih baik kerja sendiri resiko lebih tidak kecil terkena virus.

“Saya sudah tiga tahun kerja sol Sepatu, dulu tambal ban dan sopir, namun tahun ini kena dampak wabah Corona pendapatan menurun “bebernya. Sebab orang jarang keluar rumah, sementara anak-anak masih libur belajar online.

“Saya pusing juga pa, karena pendapatan cukup buat makan sehari sekitar Rp50.000. Belum lagi belajar anak secara daring,”sebut Hairi yang juga menyambi menjadi petugas sampah dengan motor butut Satria lama.

Dengan upah sol sepatu dari 10.000 hingga 15.000, ia berharap kondisi kembali normal. Terutama saat lebaran dan anak sekolah. Sebanyak orang banyak jahit sepatu baru atau lama.

Dia juga mengaku tidak ada bantuan atau pinjaman dari pemerintah, lantaran tidak ada yang bisa dijadikan jaminan. Sedihnya lagi, kalau hujan terpaksa Hairi berhenti kerja karena hanya bertempat di tepi jalan dan harus menutupinya pakai plastik. Hingga harus berteduh di warung Julak, dengan memperhatikan menghindari kerumunan saat orang mampir kehijamam atau makan pagi.

Namun kadang rezeki tak terduga datang tiba-tiba, keahliannya sebagai sopir truk juga dipanggil dadakan. Dia juga berpesan, agar jangan meremehkan Covid-19 ini dan berharap vaksin yang datang segera dibagikan kepada pasien yang terpapar positif di rumah sakit.

Penulis : Arsuma

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed