oleh

Politeknik Negeri Banjarmasin Gelar Pengabdian Masyarakat di Masjid Al Mukarramah

Banjarbaru,  BARITO – Pengabdian Masyarakat Politeknik Negeri Banjarmasin Jurusan Akuntansi Program Studi D4 Akuntansi Lembaga Keuangan Syariah digelar di ruang induk Masjid Besar Al Mukarramah Jalan A Yani Km 26 Landasan Ulin Banjarbaru, Jumat (16/10/2020).

Sedikitnya 30 orang pengurus Masjid Al Mukarramah mendengarkan penyajian materi dari H Muhammad Yassir Fahmi, H Mairijani, dan Andriani, dengan memperhatikan protokol kesehatan, seperti cuci tangan, penggunaan masker, dan menjaga jarak para peserta.

Menurut Andriani, pihaknya memberikan edukasi pengelolaan dana masjid, meski tidak secara khusus dipaparkan, namun paling tidak para pengurus masjid dalam pengelolaan keuangan, mampu menerapkannya bersifat umum.

Kegiatan bertajuk “Upaya Optimalisasi Fungsi Masjid Melalui Edukasi Pengelolaan Keuangan Masjid Bagi Pengurus Masjid Al Mukarromah Banjarbaru” tersebut, sambung Andriani sebagai bentuk pengabdian Politeknik Banjarmasin, yang terselenggara setahun sekali. “Ya, pengabdian tidak hanya untuk dosen, tetapi juga bisa melibatkan mahasiswa. Kini masih kondisi pandemic Covid-19, sehingga kami tidak melibatkan mahasiswa,” ujar Andriani, disela kegiatan Pengabdian Masyarakat Politeknik Banjarmasin, Jumat (16/10/2020).

Hasil pengabdian, sebut Andriani, pihaknya akan menyampaikan di media, bisa melalui tulisan artikel, dan sangat penting bisa diterapkan di Masjid Al Mukarramah Landasan Ulin Banjarbaru. “Kita akan lebih spesifik lagi tahun depan untuk pengabdian masyarakat dan merupakan salah satu syarat di perguruan tinggi, seperti beban kinerja” beber dosen Akuntansi Lembaga Keuangan Syariah Politeknik Negeri Banjarmasin ini.

 

Sementara itu, H Muhammad Yassir Fahmi menyampaikan dana masjid perspektif syariah. Termasuk perbedaan infaq,  zakat dan sedekah. “Tujuan utama kemaslahatan yakni mengambil manfaat dan menolak mudharat (bahaya) dalam rangka memelihara syara diantaranya agama,  keturunan dan lainnya,” papar Muhammad Yassir Fahmi.

Ia mencontohkan, kemashlahanan seperti tuntunan beribadah masa pandemi Covid-19 tidak shalat jumat dan tarawih berjamaah di masjid, shalat menggunakan masker (hifzun nafs).  “Selama kemashlahatan tidak bertentangan dengan Al Quran dan hadits maka dibolehkan,” ucapnya.

Sedang H Mairijani menekankan  pengelolaan masjid tidak hanya untuk shalat, namun sebagai pusat peradaban yakni ibadah dakwah,  sosial,  pendidikan,  dan pemberdayaan ekonomi. “Masjid sebagai pusat peradaban, ” tutur dosen Politeknik Banjarmasin ini.

Dan, tahukah Anda? Setiap pagi ada dua malaikat yang berdoa bagi orang-orang yang ikhlas gemar bersedekah. Hal ini diketahui dari hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut ini:

Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيهِ إِلاَّ مَلَكَانِ يَنْزِلاَنِ فَيَقُولُ أَحَدُهُمَا اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا، وَيَقُولُ الآخَرُ اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا

“Ketika hamba berada di setiap pagi, ada dua malaikat yang turun dan berdoa, “Ya Allah berikanlah ganti pada yang gemar berinfak (rajin memberi nafkah pada keluarga).” Malaikat yang lain berdoa, “Ya Allah, berikanlah kebangkrutan bagi yang enggan bersedekah (memberi nafkah),” (HR. Bukhari No. 1442 dan Muslim No. 1010).

 

Mairijani pun berharap dari dana infaq masjid dapat digunakan untuk kemakmuran masjid, termasuk masjid bisa menyediakan pemberdayaan ekonomi syariah untuk para jamaah. Untuk itu dibutuhkan struktur kepengurusan masjid seperti adanya penasehat,  ketua umum,  sekretaris, bendahara,  humas,  pemberdayaan ekonomi,  kebersihan,  logistik.

Tim Pengabdian Masyarakat Politeknik Banjarmasin yang terdiri Andriani SE MM MSc, Manik Mutiara Sedewa SE Ak CA SAS MBus, Basyirah Ainun SE MM AkCA, Lusiana Handayani SE CIFP AkCA,  juga memberikan contoh stimulasi untuk jamaah agar ber-infaq seperti kebutuhan pada tahun 2001 mencapai biaya Rp43.200.000 dibagi 12 bagi 4 sehingga total kebutuhan hanya Rp900 ribu. “Ini jika kebutuhan sudah dibagi dengan pembiayaan seperti listik, air,  pengajian,  kebersihan,  khotib,  minuman subuh,  perawatan,  pengembangan masjid,” tandasnya.

Jika jumlah jamaah 600 orang, kemudian mampu ber-infaq Rp1.500 perpekan, maka anda adalah jamaah mandiri. Namun anda bisa ber-infaq lebih dari itu, maka anda membantu yang lain. “Jika anda ber-infaq kurang dari Rp1.500 maka anda masih disubsidi orang lain,” imbuhnya, dalam pertemuan selama kurang lebih dua jam tersebut.

Ketua Masjid Al Mukarramah Amril mengapresiasi pengabdian masyarakat dari Politeknik Banjarmasin.  “Paparan materi dari pengabdian masyarakat ini sangat bermanfaat dan menambah wawasan kami,” kata Amril yang mengaku Masjid Al Mukarramah menerapkan protokol kesehatan dalam berbagai kegiatannya.

Penulis: Afdi

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed