oleh

LSM Lentera Kartini Minta Penambangan Emas Lokal Jauhi Mercury

Keterangan fhoto : Ketua LSM Lentera Kartini, Forisni Aprilista bersama awak media, ketika memaparkan pentingnya penambang emas lokal menjauhi zat berbahaya (mercury dengan sianida) dan mensosialisasikan teknologi penambangan emas rakyat yang ramah lingkungan.(zainal/brt).

SAMPIT, BARITO – LSM Lentera Kartini Kotim yang diketahui membidangi pembela hak perempuan, bekerjasama dengan Artisanal Gold Counsil (AGC) dari Kanada mensosialisasikan teknologi penambangan emas rakyat yang ramah lungkungan.
Dalam pertemuan media gathering yang digelar LSM Lentera Kartini Pembela Perempuan di aula Hotel Aquarius, lantai III, Kamis (20/12). kerjasama dengan LSM ini untuk memperkenalkan kepada warga, teknologi penambangan emas rakyat yang ramah lingkungan tanpa harus menggunakan merkuri atau sianida yang selama ini digunakan para penambang emas.
Ketua LSM Lentera Kartini, Forisni Aprilista mengatakan lembaga yang dipimpinnya memiliki peranan penting dalam memperjuangkan mengangkat kualitas kehidupan masyarakat pelaku (pekerja) tambang, dengan tujuan untuk memperbaiki tarap kehidupan yang lebih baik lagi. “Kami juga berharap kegiatan kami bersama AGC juga di back up oleh media di daerah ini,” Katanya.
Program yang mereka gulirkan di antaranya adalah mensosialisasikan teknologi penambangan emas yang ramah lingkungan bekerja sama dengan LSM dari Kanada, AGC. Pihaknya bersama AGC telah terjun ke beberapa wilayah pertambangan emas rakyat di daerah kecamatan,Parenggean guna menerapkan teknologi penyaringan biji emas tersebut.
Perwakilan dari AGC, Darlis menjelaskan dalam kesempatan tersebut, metode berupa teknologi sederhana yang memungkinkan penyaringan biji emas tanpa menggunakan zat berbahaya.
“Para pelaku tambang tetap menggunakan fasilitas yang mereka miliki, tapi ada penambahan peralatan yang memungkinkan penyaringan emas tanpa merkuri yang membahayakan kesehatan jika terpapar di dalam tubuh,” Jelasnya dan menyebutkan bahwa, teknologi tersebut merupakan teknologi gravimetrik (penyaringan dengan teknologi gravitasi) dan mempunyai peralatan khusus yang bisa digunakan.
Teknologi yang dimaksud telah dipasang di salah satu unit WPR di kecamatan Parenggean dengan kemampuan menyaring hingga 90 persen biji emas.
“Berbeda dengan penggunaan merkuri yang hanya mampu menyaring 40 persen, sisa nya terbuang dan malah menjadi pencemar lingkungan yang membahayakan,” Kata Darlis. Zainal.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed