oleh

Lebih Mengenal Musik dan Bunyi Banjar di “Palidangan Noorhalis” 

Banjarmasin, BARITO – Daerah Banjar diyakini juga memiliki musik, dan memiliki bunyi yang khas. Untuk mengenali lebih dalam serta mengidentifikasi bunyi dan musik banjar itu sendiri,  perlu upaya untuk mencintai dan melestarikannya.

Segala hal berkait musik dan bunyi banjar tersebut dibahas dalam Program “Palidangan Noorhalis”yang disiarkan di RRI Banjarmasin, Kamis (16/01/2020) pukul 10.00-11.00 wita.

Pada acara tersebut, Noorhalis Majid yang membawakan acaranya sendiri itu mengundang Novyandi Saputra, seorang peneliti, penulis buku “Bunyi Banjar” sebagai narasumber.

Menurut Noorhalis, dunia seni melihat kepelbagaian jenis alat musik dan musik. Para peneliti bidang etnomusikologi memainkan peranan penting dalam mendokumentasikan kesenian tradisional masyarakat lokal, untuk memastikan kelestarian musik suatu masyarakat. Banjar juga memiliki musik, memiliki bunyi yang khas.

” Bagaimana bunyi dan musik banjar itu sendiri? Bagaimana mengenalinya? Apa yang harus dilakukan untuk mengembangkan dan melestarikannya? Hal inilah yang kita bahas pada acara ini,” ujar aktivis senior itu.

Novyandi Saputra menuturkan, jika menelusuri sampai ke hulu tentang musik banjar, maka dirinya baru menemukan gamalan.

” Lebih jauh dari gamalan belum ada, kecuali bamamang, itupun kalau mau dimasukkan sebagai bunyi yang dapat dikenali sebagai identitas kita,” ujarnya

Gamalan sendiri, imbuhnya, tergolong jenis pentatonis yang hanya terdiri dari 5 nada pokok, seperti slendro yang juga memiliki 5 nada.

Lebih lanjut Novyandi menjelaskan, bahwa daya melodi, sangat tergantung dari pembuat alat musiknya. Seperti slendro tadi. Sekalipun dibuat oleh orang yang sama, dengan bahan yang sama, belum tentu melahirkan daya melodi yang sama.

Gamalan juga begitu, sekalipun dibeli dari pembikin yang sama, bunyinya bisa saja berbeda. karena dia dibikin dengan cara manual, bukan hasil pabrikan. Ditempa dengan cara sederhana, sehingga tebal tipisnya tidak dapat diukur dengan pasti. Di situ keunikan dan sekaligus keistimewaan musik tradisional pentatonis.

Musik Banjar yang sangat populer adalah panting.

“Sekarang musik panting sudah sangat berkembang, tidak bisa lagi kita anggap sebagai musik tradisi. Apalagi ketika dia sudah sangat populer, mengikuti budaya populer, sehingga menjadi hibrid, dipadukan dengan alat musik lainnya, termasuk alat-alat musik modern, sehingga kehilangan keasliannya,” bebernya.

Lebih lanjut dia mengatakan bahwa alat musik lainnya, adalah Kuriding. Walaupun alat musik yang satu ini juga terdapat di berbagai daerah lain, tertama daerah yang masyarakatnya tergolong agraris atau pertanian.

” Namanya bermacam-macam, kebetulan di tempat kita diberinama Kuriding. Julak Maman, mempopulerkan Kuriding, dan menetapkan 4 Mei sebagai peringatan hari Kuriding, alasannya pada tanggal itu Kuriding pertama kali diminta tampil di Jakarta,” urainya.

Novyandi juga mengungkapkan, dari semua bunyi banjar, akarnya hanya satu, yaitu gamalan. Walaupun diakui bahwa gamalan berasal dari Jawa yang berarti gamelan. Itulah yang menurutnya disebut dengan alkulturasi.

Tetapi, tekan dia produksi gamalan banjar sudah dilakukan sejak lama di Tapin. Alat musik lainnya gong. Tetapi,  gong hanya satu nada, tidak ada nada lain.

“Dipukul bagaimanapun hanya melahirkan satu nada. Saron juga begitu, hanya ada saron halus dan ganal, tidak lebih dari itu,” katanya.

Sekarang ini, Novyandi melihat, memang orang lebih memilih atau menggemari musik diatonis. musik-musik yang berasal dari Eropa. Sehingga musik tradisipun meniru musik modern yang diatonis. Padahal sejatinya adalah musik tradisi.

Dalam musik panting, yang menjadi ciri khas adalah penyanyinya dengan jenis vokal singik. Jenis vokal tersebut merupakan jenis vokal tradisi. Sekarang jenis vokal singik sudah mulai hilang, terpengaruh diatonis, musik-musik populer.

Para pendengar “Palidangan Noorhalis”, Pro 1 RRI Banjarmasin juga ikut bergabung menyampaikan pendapatnya.

Misalnya Syahri di Banjarmasin, menyatakan bahwa dia merasa kecewa karena musik panting sering kali berubah menjadi dangdut. Kita menjadi kehilangan musik asli banjar, dan dangdut kemudian merebut panting itu sendiri.

Saddam di Banjarmasin juga menyampaikan hal yang sama, menyayangkan musik panting yang berubah atau dimodernkan menjadi dangdut. Semestinya dipertahankan, jangan dicampur atau digabung, sehingga kekhasannya masih terasa. Harus mempertahankan budaya sendiri, jangan sampai digilas budaya lain.

Hariadi di Tabalong, mengatakan, dari sisi irama, dia berpendapat bahwa sudah ada yang khas bagi banjar.

“Kalau dari sisi bunyi belum ditemukan, maka ada baiknya terus dicari sampai diketemukan, karena rasanya tidak mungkin hanya sampai pada gamalan. Sementara itu, agar lestari, yang sudah ada saja diterapkan di sekolah-sekolah, sehingga anak-anak familiar dengan alat-alat musik yang kita miliki,” tukasnya.

Pada bagian akhir acara, Noorhalis Majid sebagai pemandu bersama narasumber mengajak masyarakat banjar untuk menanamkan rasa kebanggaan pada musik sendiri.

” Kalau kita punya instrumen sendiri, tentu intrumen tersebut menjadi satu kebanggaan, dari itu bisa menjadi identitas. Harus ada upaya untuk melestarikan musik-musik banjar. Caranya, kantor, lembaga dan sekolah memiliki koleksi alat musik tradisonal,” ujar Novyandi.

Dengan mengoleksi alat musik tradisional, maka akan sangat membantu pelestariannya.

“Sangat bagus kalau kemudian semua orang belajar memainkannya, lebih lestari dan terus berkembang,”pungkas narasumber.

Penulis: Cynthia

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed