oleh

Kepergian Lucas Pierre Sisakan Duka bagi Musisi Banua, Salah satunya Yandi Pratama 

Banjarmasin, BARITO – BERITA meninggalnya salah satu musisi legendaris Banua, Lucas Pierre (54) Rabu (6/5/2020) siang memang menyisakan duka mendalam tak hanya bagi keluarganya.

Sejumlah musisi senior termasuk musisi muda sangat kehilangan akan sosok salah satu basisst terbaik di Kalsel ini.

Salah satunya Yandi Pratama SH MH yang mengaku cukup terpukul atas kepergian mantan basist grup rock Armada Borneo itu.”Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un terkejut campur sedih mas mendengar kabar itu” ujar drummer muda yang kini bermukim di Jakarta itu ketika mengkonfirmasi kabar itu kepada Barito Post malam harinya.

Bagi Yandi, dirinya kehilangan sosok musisi panutan yang selama ini rajin berbagi ilmu dan diskusi bersama musisi Banua. Yandi Pratama mengaku mengenal Lucas panggilan akrab bassist dan arranger itu ketika dirinya masih SMP.

Saat itu dirinya mengenal almarhum ketika masih bersama grup nya Armada Borneo ketika merilis album Mark 1 .” Ketertarikan saya bermain musik salah satunya selain Dewa 19 juga grup musik Armada Borneo dimana salah satu personilnya Lucas Pierre.

“Ketika saya mulai bermain musik saat itu sedang ramai ramainya festival disitu saya mengenal Om Lucas , beliau sangat ramah sekali dengan musisi muda seperti kami tak menjaga jarak” ujar mantan drummer Sendal Jepit. Ini dibuktikan ketika Lucas Pierre berkarir di Jakarta dia tak segan berkolaborasi jamming bersama dirinya baik di studio ataupun di kafe.” Banyak kenangan bersama almarhum, baik diskusi dan sharing untuk kemajuan musik di Banua, selamat jalan Om Lucas, terima kasih dedikasinya selama ini untuk kemajuan musik di Banua ” pungkas Yandi.

Sekedar diketahui, sebelum bergabung di Armada Borneo, Lucas Pierre bersama Suud Johan mantan vokalis Rock Monster pernah membentuk grup Rock Monster setelah sebelumnya mereka bersama band Bentoel

Lucas Pierre Lambut, demikian nama putra Guru Besar ULM Prof MP Lambut yang juga dikenal sebagai pengamat budaya itu, di era tahun 90 an bersama (alm) Yani Rangga (vox) Jali Bana (vox2), Alan (gitar) Simson (eks drummer Big Boys) serta Yudhi’Bule’ (Keyboard ) pada tahun 1992 grup merilis satu album Armada (Mark I). Album itu langsung disupervisi (alm) Deddy Dores seorang musisi legendaris anak negri sekaligus talent scout bertangan dingin . Di album yang berisi 10 tembang diantaranya Bukalah Mata Hati, Ozon, Tragis dan Bunga Trotoar itu, eks gitaris GOD Bless n Superkidz itu menyumbangkan tembang ciptaannya Angela. . . Disponsori salah seorang pengusaha top Banjarmasin waktu itu Irwan Gonadi, Armada Borneo bahkan melanglang buana hingga ke Malaysia dan satu panggung dengan Ella, lady rocker negeri jiran itu. . . .

Setelah itu Lucas Pierre kemudian melanjutkan karirnya di Jakarta . Wara wiri di panggung musik ibu kota, Lucas Pierre kemudian bergabung dan menjadi leader grup Asia One yang merupakan home band Hard Rock Kafe Jakarta saat itu. Lebih kurang 3 tahun lalu Lucas Pierre kembali ke Banua dan sempat menjadi manajer satu pub di Kota Banjarmasin

Selain membagi ilmu dia juga dipercaya menjadi juri di berbagai festival musik atau solo vokal yang digelar berbagai instansi termasuk Bintang Radio RRI . Kepiawaiannya dalam bermusik dimanfaatkan beberapa kabupaten mengkolaborasikan dan mengaransemen musik tradisional daerah dan modern. Selamat jalan Lucas Pierre, Rest in Peace. Terima kasih untuk dedikasinya untuk musik Banua.

Penulis : Mercurius

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 komentar

  1. Turut berduka cita tuk ka lucas,,kaka yg baik hati, kaka yg smart,,kaka yg sll memberikan pencerahan bagi musik di kalsel, khususnya Banjarmasin

News Feed