oleh

Kemitraan Ekonomi Umat Dikembangkan

Program Kemitraan Ekonomi Umat sebagai tindak lanjut dari Kebijakan Pemerataan Ekonomi dan Kongres Ekonomi Umat oleh Majelis Ulama Indonesia. (ist/brt)

Banjarmasin, BARITO – Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian mengembangkan Program Kemitraan Ekonomi Umat sebagai tindak lanjut dari Kebijakan Pemerataan Ekonomi dan Kongres Ekonomi Umat oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan, kolaborasi dengan pondok pesantren dan organisasi berbasis keagamaan merupakan salah satu faktor penting dalam upaya pengurangan ketimpangan. Pasalnya, lembaga berbasis keagamaan telah mengakar kuat di tengah masyarakat, terutama di wilayah perdesaan.

“Program kemitraan ekonomi umat memfasilitasi berbagai inisiatif kemitraan antara umat, yaitu kelompok masyarakat berbasis pondok pesantren, masyarakat sekitar pondok pesantren, dan masyarakat khususnya usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dengan kelompok usaha besar,” ujarnya dalam keterangan tertulis.

Menurut data terdapat sekitar 28.000 pondok pesantren di seluruh Indonesia dengan jumlah santri lebih dari 4 juta orang. Kementerian Koordinator bidang Perekonomian telah memfasilitasi 16 kelompok usaha besar untuk bermitra dengan pondok pesantren dan kelompok masyarakat berbasis keagamaan. Selain itu, pemerintah juga telah berkolaborasi dengan beberapa Ormas Besar Islam.

Darmin melanjutkan, pemberdayaan ekonomi umat masih menghadapi tantangan dalam aspek sumber daya manusia (SDM). Di sisi lain, tingkat pendidikan angkatan kerja sebagian besar masih rendah dan pengangguran relatif besar.

Menurut Darmin, meski dihadapkan pada tantangan tersebut, perkembangan teknologi khususnya di bidang teknologi digital revolusi industri era 4.0 bisa menjadi peluang bagi pemberdayaan ekonomi umat.

“Program kemitraan ekonomi umat ini mem prioritaskan pengembangan tiga pilar, yaitu vokasi, kewirausahaan, dan kemitraan. Ketiganya ditujukan untuk melahirkan generasi muda yang memiliki kapasitas sebagai technopreneur dan sociopreneur,” jelasnya.

Darmin berharap pelaksanaan pilot program yang di inisiasi oleh Direktorat Kemahasiswaan dan Pengembangan Karier IPB, Medco Foundation, dan Yayasan Jamíiyyatul Hidayah di Desa Cibuntu, Kabupaten Bogor, ini dapat berjalan dengan sukses sebagai best practices.

“Saya juga berharap ini dapat direplikasi melalui dukungan kelompok usaha lain, BUMN, kementerian/lembaga, pemerintah daerah, perguruan tinggi, perbankan, dan organisasi kemasyarakatan,” tandasnya. okz/afd/brt

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed