oleh

Kalsel Kembali Kehilangan Musisi Terbaiknya, RIP Lucas Pierre 

Banjarmasin, BARITO – BERITA menggelegar aku terima, kekasih berpulang tuk selamanya. Hancur luluh rasa jiwa dan raga tak percaya tapi nyata.

Penggalan lirik tembang Bing karya penyanyi dan pencipta lagu legendaris Titiek Puspa itu seolah menggambarkan kekagetan sekaligus duka musisi Banua mendengar kabar kepergian Lucas Pierre, salah satu musisi legendaris Banua.

Kabar itu masuk ketika Ervin Wardhana, kakak kandung Gusti Hendi (GIGI) menghubungi wartawan Barito Post Rabu (6/5/2020) Mantan Keyboad Pawakha yg sempat jadi Ketua HIPMI Kalsel ini menanyakan kabar kebenaran meninggalnya Lucas, salah satu bassist senior yang dihormati oleh para bassist di Banua ini.

Tak lama masuk pesan masuk melalui WhatsApp dari Tono alias Todra drummer senior dari grup rock legendaris Banua , The Stim’ s yang memberitahukan kebenaran kabar duka itu.

Berita kepergian Lucas yang mendadak langsung menyebar melalui medsos dan membuat terkejut sekaligus shock rekan rekannya baik sesama musisi maupun teman SMA dan kampus. Belum diketahui apa penyebab meninggalnya pria berusia sekitar 54 tahun itu. Karena tak ada terdengar sakit . Sehingga diduga almarhum terkena serangan jantung

Ucapan duka cita pun mengalir baik melalui status pribadi maupun komentar baik di akun FB dan IG atapun yang mention ke akun pribadi almarhum. ” Beliau sejak SMA dan di kampus memang sudah dikenal jago main musik khususnya bass, dan sering menjadi the best player di berbagai festival” tutur Dadang Yulistia redaktur senior harian Barito Post yang kebetulan adik kelas almarhum di SMA 1 dan juniornya di Fakultas Ekonomi ULM ( dulu Unlam).

Selamat jalan Om selamat jalan kawan, tulis Hurries, teman band nya sekarang di akun IG nya. Senada dikatakan pemilik Rumah Makan Si Palui, Said Syech Firdaus melalui akun IG nya. RIP (Rest in Peace) Lucas, tulis Ervin Wardhana pengusaha muda Kalsel dan Riza Dohong ex gitaris Tornado of Soul dan Braboetz. Rendah hati, senang bekerja sama dengan beliau, tulis seorang angkasawan RRI Banjarmasin Lay Sulaiman pada kolom komentar pada satu status di FB.

Sementara dedengkot musik cadas Banua Suud Johan, mantan vokalis Rock Monster dan Hefaz mengenang kebersamaan bersama Lucas waktu membentuk Rock Monster setelah sebelumnya mereka bersama band Bentoel melalui postingan di status FB yang dilampiri foto.

Lucas Pierre Lambut, demikian nama putra Guru Besar ULM Prof MP Lambut yang juga dikenal sebagai pengamat budaya itu memang terlahir untuk musik. Selain sebagai bassist dia dikenal sebagai arranger dan dirigen paduan suara di Gereja. Sekedar diketahui di era tahun 90 an Lucas Pierre pernah memperkuat grup Rock, Armada Borneo.

Grup dengan personil dedengkot musik rock di Banjarmasin ini diperkuat (alm) Yani Rangga (vox) Jali Bana (vox2), Alan (gitar) Simson (eks drummer Big Boys) serta Yudhi’Bule’ (Keyboard ) dan Lucas Pierre (bassist).

Pada tahun 1992 grup ini merilis satu album Armada (Mark I) dan langsung disupervisi (alm) Deddy Dores seorang musisi legendaris anak negri sekaligus talent scout bertangan dingin. Di album yang berisi 10 tembang diantaranya Bukalah Mata Hati, Ozon, Tragis dan Bunga Trotoar itu, eks gitaris GOD Bless n Superkidz itu menyumbangkan tembang ciptaannya Angela.

Disponsori salah seorang pengusaha top Banjarmasin waktu itu Irwan Gonadi, Armada bahkan melanglang buana hingga ke Malaysia dan satu panggung dengan Ella, lady rocker negeri jiran itu. Armada yang kemudian personilnya berganti karena sebagian ada yg hijrah ke Jakarta kemudian mencoba membikin album kedua dan merekrut personil baru diantaranya Achmad Rizali (keyboard ) Enzen Banjarmasin (Gitar) alm Didin (Bass) serta Wahyu ( drum) dan Deden (Vox).

Sayang entah kenapa album kedua tak kunjung rilis dan grup ini oleh sang pemilik Irwan Gonadi tak diteruskan.

Namun, walau bagaimana pun juga Armada Borneo mencatatkan sejarah dalam hingar bingarnya musik rock Banua (Kalsel) era 80/90 an sebagai grup musik Rock pertama di Kalimantan merilis album yang digarap secara profesional (mohon koreksi jika salah)

Sementara itu Lucas Pierre kemudian melanjutkan karirnya di Jakarta. Wara wiri di panggung musik ibu kota, Lucas Pierre kemudian bergabung dan menjadi leader grup Asia One yang merupakan home band Hard Rock Kafe Jakarta saat itu. Lebih kurang 3 tahun lalu Lucas Pierre kembali ke Banua dan sempat menjadi manajer satu pub di Kota Banjarmasin

Selain itu membagi ilmu dia juga dipercaya menjadi juri di berbagai festival musik atau solo vokal yang digelar berbagai instansi . Kepiawaiannya dalam bermusik dimanfaatkan beberapa kabupaten berkolaborasi kan musik tradisional daerah dan modern. Kini Kalsel kembali kehilangan musisi terbaiknya. Selamat jalan Lucas Pierre, Rest in Peace.

Penulis : Mercurius

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed