oleh

Hanif, Salah Satu Penggerak Tunas Meratus yang Mandiri

Banjarmasin, BARITO
Salah satu peraih Duta Lingkungan 2018 pada 20 Oktober tadi, adalah Hanif Wicaksono. Pemuda berusi 35 tahun mendapat penghargaan dari Komunitas Jurnalis Pena Hijau Indonesia tahun ke delapan itu menceritakan kiprahnya.
Hanif sebenarnya lulusan sarjana komunikasi itu dalam kepeduliannya di bidang lingkungan adalah menjadi penggerak Tunas Meratus. Kegiatan Tunas Meratus adalah mengumpulkan dan mendokumentasikan, membibitkan dan membudidayakan tanaman buah Kalimantan, pelestarian sumberdaya Plasma Nutfah Kalimantan.

Dalam kegiatannya Hanif yang sehari-harinya adalah
pegawai negeri sipil (PNS) di Badan Kependudukan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Kabupaten Balangan ini
mulai usahnya sejak tahun 2012 lalu di Kandangan Kabupaten HSS Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel). Selama lebih dari 5 tahun berjalan program ini hanya pemah mendapat bantuan sekali untuk membuat sebuah Nursery dari BPTP Kalsel. Selebihnya dengan menyisihkan dana pribadi.

Hanif yang tinggal di Jalan Gambah Luar itu menyatajan, tujuan program tersebut ingin menyelamatkan, mengenalkan dan membudidayakan buah Kalimantan, karena saat ini di Kalimantan laju Deforestasi sangat cepat dan mengancam keberadaan buah endemik. Padahal buah Endemik Kalimantan sangat layak untuk dibudidayakan, namun hingga saat ini masih banyak yang belum diketahui oleh masyarakat luas.

Program ini dibuat warga asal Blitar Jateng untuk membantu stakeholder dalam menyusun kebijaksanaan bidang sumber daya alam (SDA), kehutanan, lingkungan hidup (LH), dan holtikultura. Untuk masyarakat agar lebih mengenal kekayaan dan keragaman sumberdaya genetik serta membbantu memberikan pilihan alternatif konsumsi buah nusantara.
Salah satu alasan kenapa “buah” adalah ketika menanam pohon buah masyarakat akan panen dengan cara ditebang, jadi pemikirannya adalah mempertahankan pohon selama mungkin dimana pohon yang satu itu akan menghasilkan pohon-pohon yang lebih banyak lagi. Secara ekonomi tentu buah akan mempunyai hasil yang kontinyu dan berkelanjutan.
Selain itu menurutnya tanaman buah bisa membantu memulihkan ekosistem lebih, karena buah juga disukai hewan.
“Kegiatan kami mulai dari melakukan ekplorasi terutama di Kalsel , dokumentasi, pembibitan serta edukasi. untuk dokumentasi ada Satu Bab buku sudah publikasi denga,”Potret Buah Nusahtara Masa Kini’ (ISBN: 978-979-002,”ungkapnya.
Kemudian ada satu drafy buku lagi belum dipublikasi, berjudul, “Buah Hutan Kalimantan Selatan seri 1-6 (sebuah dokumentasi dari konservasí)”. arsuma

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed