oleh

Gigihnya Nazaruddin, Penjual Yoyo Balon Mengais Rezeki di Masa Pandemi

Serangan “Wisa” jadikan Disiplin Prokes

Banjarmasin, BARITO – JALANAN yang mulai sepi usai hujan jelang tengah malam di pertigaan Lambung Mangkurat – Hasanuddin (samping Kantor BCA) Kota Banjarmasin, Nazaruddin masih setia berdiri di trotoar dengan sepeda yang memuat barang dagangannya mainan anak anak Yoyo balon berukuran sebesar bola pingpong.

Bagi para pengendara motor dan mobil dari arah Lambung Mangkurat yang akan berbelok menuju Jalan HM Hasanudin pasti akan melihat lelaki berpeci mengenakan baju koko lengkap masker penutup wajah itu yang sesekali melihat ponsel jadulnya.

Ponsel yang berfungsi hanya untuk menelpon dan mengirim pesan pendek (SMS). Memang jika tidak secara khusus berhenti, orang tidak akan tahu apa yang didagangkan pria berusia 47 tahun itu.

Yoyo balon itu sendiri mainan sangat sederhana, yakni balon kecil diisi air dan dipasang tali.

Lantas berapa ayah satu anak ini menjual mainan tradisional langka karena tergerus mainan modern di era digital ini?

Untuk satu Yoyo balon, Nazarudin menjual Rp3000 dan bila membeli dua sekaligus dijual Rp5000.” Alhamdulillah terkadang sehari dapat Rp100 sampai 200 ribu” ujar warga Kelurahan Kuin Selatan RT 17 Kota Banjarmasin ini dengan bahasa Banjar kepada Barito Post, Minggu (27/12/2020) jelang tengah malam.

Sebelum memutuskan menjual mainan anak yang boleh jadi sangat jarang dijual pedagang mainan lainnya itu, Nazaruddin sempat mengais rezeki bagi anak dan istrinya dengan menarik becak.

Selama 10 tahun menjual jasa transportasi roda tiga itu, Nazarudin akhirnya menyerah.

Aplikasi layanan transportasi angkutan umum melalui smartphone seperti gojek dan grab membuat Nazaruddin mencari peruntungan lain.

Sempat bekerja menjadi penggali tambang di perusahaan pertambangan di Kabupaten Tanah Bumbu, serangan ‘wisa’ ( malaria) membuat Nazaruddin tumbang dan masuk rumah sakit. Setelah pulih pria tamatan SMP di Kabupaten Kapuas (Kalteng) ini memilih kembali ke Banjarmasin dan memutuskan menjual mainan Yoyo balon.

Nazaruddin memang tipe pekerja keras yang tak mudah menyerah, Apalagi dirinya juga harus menghidupi isteri dan putri semata wayangnya yang saat ini duduk di bangku SMPN 5 Banjarmasin. “Sejak wabah Covid19 istri saya berhenti jualan gorengan disekitar tempat kami tinggal ” aku Nazaruddin.

Pasalnya akibat Pandemi ,banyak buruh besi di kawasan Kuin Selatan yang mayoritas pembeli dagangan istrinya itu berhenti bekerja. Karena itulah Nazaruddin harus bekerja keras.

Apalagi saat ini dia beserta keluarga masih tinggal di rumah sewa.

Dari pagi hingga siang hari dirinya menjajakan mainan tradisional yang berbeda dibanding mainan Yoyo asli dan terbuat dari kayu itu di sekolah sekolah.

Usai Maghrib dirinya kemudian mengayuh sepeda yang dimuat mainan jualannya itu menuju ke pusat perbelanjaan modern Duta Mal dan berjualan disampingnya. Terkadang dia juga menjajakan Yoyo balonnya itu ke siring di kawasan Jalan Pierre Tendean

“Terakhir kemudian baru saya berjualan di samping BCA ini ” ujarnya .

Pemerintah dimasa Pandemi Covid19 selalu menggelorakan penerapan protokol kesehatan (Prokes) yakni 3 M (Menjaga Jarak, Mencuci Tangan dan Memakai Masker) .

Secara kasat mata, Nazaruddin yang ngetem menjual mainnya di pertigaan itu hanya sendiri. Sehingga dia tak harus selalu mengenakan masker.

Namun nyatanya masker yang dikenakannya tak pernah lepas dari wajahnya “Waspada itu penting untuk menjaga kesehatan tidak enak masuk rumah sakit, mana harus keluar biaya ” ungkap Nazaruddin mengenang serangan “wisa” yang sempat membuatnya terkapar cukup lama di rumah sakit.

Sebab itulah dalam keluarga kecilnya dia selalu menerapkan protokol kesehatan menjaga agar virus berbahaya itu tidak menjangkiti mereka” Pulang ke rumah sebelum masuk saya membiasakan untuk membersihkan diri dengan mencuci tangan dan muka, mencegah lebih baik ” tambahnya .

Terkadang muncul pertanyaan, apakah ada pembeli tertarik membeli mainan tradisional yang dijualnya ditengah maraknya mainan anak yang serba canggih di era digital ini? Apalagi menjelang tengah malam sangat jarang orang tua masih jalan bersama anak anaknya ?

Terlepas dari keyakinan rejeki sudah diatur Allah SWT, yang pasti Nazaruddin memiliki prinsip dalam mencari rejekinya Tugul (Tak mudah menyerah), Cangkal (Gigih) Hemat, Insya Allah rejeki akan mengalir ” tutup Nazaruddin yang mengaku ayah kandungnya (alm) Sarbini Abdurahman sempat menjadi wakil rakyat pada tahun 80 an

Penulis/Editor: Mercurius

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed