oleh

Dispora Kalsel Transfer Sport Science Lewat Pelatihan Pelatih

-Sport Barito-2.668 views

Banjarmasin, BARITO – Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kalsel sedang giat meningkatkan mutu tenaga keolahragaan. Salah satunya dengan mentransfer sport science melalui pelatihan pelatih dan terapis olahraga yang dilasanakan 26 sampai dengan 28 Oktober 2020 di Hotel Rattan Inn Banjarmasin.

Dalam kegiatan pelatihan peningkatan mutu tenaga keolahragaan pelatih dan terapis olahraga ini, Dispora Kalsel melibatkan 112 pelatih dan terapis yang terdiri perwakilan pengurus provinsi cabang olahraga, PPLP/PPLPD, JPOK ULM, BKOM dan Perwakilan Dispora Kalsel.

“Saat ini kita tidak bisa lepas dari sport science yang terus mengalami perkembangan. Ilmu keolahragaan tersebut harus ditransfer guna menambah pengetahuan para pelatih dan terapis melalui kepelatihan ini,” ungkap Kepala Dispora Kalsel, H Hermansyah kepada wartawan, kemarin.

Dengan kegiatan ini, lanjutnya, diharapkan meningkatkan ketrampilan mengenai teknik dasar dan penyusunan program kepelatihan. “Termasuk penerapan pola-pola teknologi secara terarah dan terukur,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua Pelaksana M Fitri Hernadi menyebutkan, kegiatan ini menghadirkan narasumber yang kompeten dibidangnya, yakni Tri Irinato MKes dari JPOK ULM, Dwi Handoko dan Perkumpulan Pelatih Fisik Indonesia (PPFI). “Kegiatan ini bersifat positif sehingga diharapkan para peserta untuk bisa menyimak kegiatan dengan baik,” terang Kabid Pembinaan Prestasi Dispora Kalsel ini.

Ditempat terpisah, Wakil Ketua Bidang Binpres Podsi Kalsel Deddy Achdiyat mengatakan, merupakan keinginan semua pelatih untuk meningkatkan ilmu kepelatihannya. “Apalagi teknologi pembinaan yang terus berkembang. Kalau kita lambat mengadobsinya akan semakin jauh tertinggal,” ucapnya.

Disamping itu, Deddy berharap peran terapis bagi atlet sangat diperlukan tidak hanya saat pelaksanaan ajang Pekan Olahraga Nasional (PON) saja, namun bisa juga kejuaraan lain.

“Peran terapis sangat diperlukan saat latihan, jadi tidak hanya saat kejuaraan saja. Sebab disaat atlet mengeluhkan sakit, terapis bisa memberikan tindak lanjut sehingga cedera yang dialami tidak terlalu parah,” sebut dia.

Selain itu, Deddy juga meminta terapis yang disiapkan di ajang PON XX Papua 2021 nanti benar-benar bekerja dan mengabdi bagi daerah. Pelaksanaan PON tidak hanya sekedar ajang jalan jalan saja, melainkan juga membantu dalam hal kesehatan atlet.

“Pengalaman kami dua kali PON, terapis memilih kabur karena atlet dayung bertanding jauh dari keramaian ibukota atau enam jam dari kota. Ketika bertanding, terapis merasa kesepian sehingga memilih meninggalkan atle. Ketika ditanya, kotanya sepi. Ini menjadi dilema bagi kami,” tambah Deddy.

Terapis yang diterjunkan juga hendaknya yang berpengalaman tidak hanya terapis muda atau mahasiswa. “Kalau yang muda atau mahasiswa takutnya nanti kabur lagi seperti dua kali PON sebelumnya. Apalagi PON kali ini di Papua daerah yang sangat jauh,” imbuhnya.

Penulis: Tolah

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed